Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020
Pada awal 2020, dunia dikejutkan dengan mewabahnya
pneumonia baru yang bermula dari Wuhan, Provinsi Hubei yang kemudian menyebar
dengan cepat ke lebih dari 190 negara dan teritori. Wabah ini diberi nama Coronavirus Disease 2019
(COVID-19) yang disebabkan oleh Severe
Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Penyebaran penyakit
ini telah memberikan dampak luas secara sosial dan ekonomi. Masih banyak
kontroversi seputar penyakit ini, termasuk dalam aspek penegakan diagnosis,
tata laksana, hingga pencegahan (Susilo, dkk., 2020: 45). Karena ini merupakan
virus baru, maka obat penangkalnya masih diteliti lebih
lanjut oleh pakar dibidangnya.
Jadi kita dituntut untuk menjaga daya tahan tubuh, baik fisik maupun mental.
Misalnya menjaga pola makan dengan baik, istirahat yang cukup, jaga jarak saat
beraktivitas sekitar satu atau dua meter dan lain sebagainya.
Lalu bagaimanakah sikap kita sebagai orang yang beriman
dalam menghadapi situasi dan kondisi di saat merebaknya wabah seperti saat ini?
Ketahuilah bahwa setiap makhluk yang Allah ciptakan merupakan
sebuah keniscayaan. Sekecil covid-19 pun tidaklah Allah menciptakannya tanpa ada sebuah
hikmah dibaliknya. Sebagai ulul albab atau manusia yang mempunyai
akal pikir, hendaklah kita selalu berprasangka baik, tidak boleh gegabah bahkan
menyalahkan ketentuan-Nya. Maka dengan akal pikir yang telah Allah berikan kepada
kita, sudah sepantasnya kita gunakan untuk mentadabburi tanda-tanda
kebesaran-Nya. Agar kita menjadi hamba yang selalu bersyukur dan taat
kepada-Nya.
Jauh sebelum penemuan modern berkembang, al-Qur’an telah
menyinggung terkait dengan mikroorganisme atau jasad renik seperti halnya virus,
dalam Tafsir Ilmi Kemenag RI (2015: 11) dijelaskan bahwa penciptaan organisme
yang sangat kecil disebutkan dalam Surah Saba’/34: 3, Yunus/10: 61,
al-Haqqah/69: 38-39, dan Saba’/34: 22. Dalam Surah an-Nur/24: 45 dan beberapa
ayat lain, jasad renik diindikasikan sebagai kata dabbah yang dipahami sebagai organisme yang bergerak, baik yang
sudah maupun yang belum diketahui oleh manusia.
Ayat di atas dapat dipahami bahwa sebenarnya masih banyak
hal-hal yang belum terungkap di dunia ini, baik perihal jenis, hakikat ataupun
tujuan ciptaan-Nya. Ini mengingatkan manusia bahwa ilmunya terbatas agar selalu
bersikap rendah hati terhadap makhluk-makhluk Allah bahkan kepada virus yang
sangat kecil.
Namun, diantara kita pasti banyak yang berpikir mengapa
Allah menciptakan makhluk seperti wabah covid-19 misalnya? Bukankah itu sangat berbahaya?! Bahkan tak
jarang ada yang menyebutnya sebagai azab, mengingat virus tersebut berasal dari
negara Cina lalu dikaitkannya dengan politik, gaya hidup bahkan makanan yang
ada di negara tersebut. Tetapi setelah virus tersebut menyebar ke seluruh
negara, bahkan ke negara yang berpenduduk muslim, lambat laun sikap
yang saling menyalahkan dan saling curiga perlahan sirna walaupun masih ada yang bersikeras.
Mengutip dari pernyataan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar,
MA. bahwa “Azab sudah tidak ada lagi, yang ada hanya musibah. Kalau azab hanya
menimpa orang kafir, tidak menimpa orang beriman. Tapi kalau musibah,
dua-duanya kena, siapa yang lengah, kena. Sama dengan bala,” papar beliau di
Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (14/3/2020). Azab tersebut bisa kita lihat pada
umat-umat terdahulu, ketika Allah hendak menimpakan suatu azab kepada mereka.
Maka Allah terlebih dahulu menyerukan kepada Nabi-Nya agar memperingatkan
umatnya supaya kembali kepada jalan yang benar, bagi umatnya yang tetap ingkar
azablah balasannya dan bagi umatnya yang beriman akan selamat di jalan-Nya.
Sebagaimana ketika Nabi Hud a.s. memberi peringatan
kepada kaum ‘Ad karena berpaling dan menyembah kepada selain Allah. Lantas! Kaum tersebut bukannya kembali ke jalan Allah justru
menantang Nabi Hud a.s. untuk menunjukkan azab yang telah diperingatkan sebelumnnya.
Nabi Hud a.s. tetap sabar dan tabah akan perlakuan kaumnya tersebut. Hingga
azab-Nya mulai diperlihatkan kepada mereka yaitu angin yang mengandung azab
yang pedih, yang menghancurkan mereka kaum ‘Ad menjadi tidak tampak lagi di
bumi kecuali orang-orang yang beriman (baca Q.S Al-Ahqaf [46]: 21-25). Hal
serupa terjadi kepada kaum Nabi Saleh a.s. yakni kaum Samud yang berbuat
maksiat kepada Allah dan enggan bertaubat, mereka terperdaya oleh kesenangan
sesaat hingga tersesatlah mereka dan azab Allah nyata padanya. Allah turunkan
suara yang mengguntur dan menimpa orang-orang zalim di antara mereka, sehingga
mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah tinggal
di tempat itu (Q.S Hud [11]: 61-68).
Demikian itulah halnya jika bencana berupa siksa, tetapi
jika bencana yang menimpa menyentuh yang durhaka dan taat maka ia dinamai
fitnah atau bala. Kedua kata ini digunakan oleh al-Qur’an dalam arti ujian atau
cobaan (Shihab, 2020: 8). Artinya ujian atau cobaan bisa menimpa kepada siapa
saja, dimana saja dan kapan saja. Dalam konteks ini, Allah menegaskan di dalam firman-Nya:
وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ
ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
(٢٥)
Terjemah : “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang
tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah
bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (Q.S Al-Anfal [8]: 25)
Tafsir Kemenag : Allah menyerukan kepada orang-orang
beriman, agar memelihara diri mereka dari siksaan, yang tidak hanya khusus
menimpa orang-orang zalim itu saja di antara orang-orang beriman. Maksudnya
ialah apabila di dalam suatu kaum perbuatan maksiat telah merata maka Allah
akan menyiksa mereka itu secara keseluruhan. Siksaan itu tidak hanya bagi orang
yang melakukan kemaksiatan itu saja, akan tetapi siksaan itu akan menimpa
mereka secara merata tanpa pilih kasih, meskipun di dalamnya terdapat juga
orang-orang yang saleh yang berada di antara mereka itu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Terjemah: “Tidak ada suatu kaum yang sebagian besar
orang-orangnya lebih terpedaya melakukan kemaksiatan dari yang tidak melakukan,
kemudian mereka tidak mau mengubahnya selain Allah akan menyiksa mereka dengan
siksaan yang merata.” (Riwayat Ahmad dari Jarir)
Oleh sebab itulah di dalam masyarakat ada institusi yang
mengurus kemaslahatan dan mengurus amar maruf dan nahi mungkar. Lembaga ini
hendaknya bertugas meneliti kemaksiatan yang timbul dalam masyarakat, serta
berusaha pula untuk mencari cara-cara pencegahannya. Juga lembaga ini berusaha
untuk menggiatkan masyarakat melakukan segala yang diperintahkan oleh agama dan
menghentikan segala sesuatu yang dilarang. Apabila kemaksiatan itu telah
merata, dan masyarakat telah melupakan agama, maka bencana yang akan menimpa
masyarakat itu tidak hanya akan menimpa suatu kelompok atas golongan tertentu
saja, tetapi bencana itu akan dirasakan oleh anggota masyarakat, secara keseluruhan
dan merata.
Di akhir ayat ini Allah memperingatkan orang-orang mukmin
agar mereka itu mengetahui bahwa Allah amat pedih siksaan-Nya. Siksaan Allah
ditimpakan atas siapa saja yang melanggar hukum-Nya. Ancaman Tuhan yang sangat
keras ini akan berlaku apabila kejahatan itu telah merajalela dan merata di
segenap anggota masyarakat itu tanpa pandang bulu. Sedangkan ancaman-ancamannya
di akhirat ditimpakan kepada orang-orang, yang melakukannya sesuai dengan berat
ringannya perbuatan yang dilakukan oleh orang itu.
Begitulah kiranya, ujian atau cobaan akan sama-sama
menimpa keduanya, baik orang-orang yang beriman ataupun orang-orang yang zalim.
Allah akan menguji setiap kaum beriman dengan berbagai ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan (bahan makanan). Dan sampaikanlah kabar
gembira kepada orang-orang yang sabar. Dengan ujian ini, kaum Muslimin menjadi
umat yang kuat mentalnya, kukuh keyakinannya, tabah jiwanya, dan tahan
menghadapi ujian dan cobaan (Q.S Al-Baqarah [2]: 155). Sementara orang-orang
yang zalim atau yang mendustakan
ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung. Maka
merugilah mereka dan jauh dari petunjuk-Nya (Q.S Al-An’am [6]: 21).
Hendaknya kita berlaku sabar atas ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Tetap bergantung dan memohon
rida-Nya. Mari kita teladani para salafus shalih di dalam
menghadapi segala ujian dan cobaan. Mereka tabah dan iman mereka tak
goyah termasuk dalam menghadapi wabah. Justru mereka tetap produktif
berkarya dan bermanfaat untuk orang lain. Sebut saja di antara mereka adalah
Syamsuddin Muhammad bin Ali ash-Shalihi, Ibnu Najim, al-Haththab ar-Ra’ini
al-Maliki, Syekhul Islam Zakariya al-Anshari dan al-Hafizh Ibnu Hajar
al-Asqalani. Mereka menginspirasi umat yang kehilangan spiritualitas di tengah
serangan wabah yang melanda.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ
خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ
شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً
لَهُ
Terjemah: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik
baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila
mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan
kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka
yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits Shahih. Diriwayatkan
oleh Muslim, No. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).
Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar