Jumat, 10 Juli 2020

Narasi Pandemi Berdasarkan Al-Qur’an, Hadis dan Sains Langkah Cerdas Memahami Covid-19

Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020


Pada awal 2020, dunia dikejutkan dengan mewabahnya pneumonia baru yang bermula dari Wuhan, Provinsi Hubei yang kemudian menyebar dengan cepat ke lebih dari 190 negara dan teritori. Wabah ini diberi nama Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Penyebaran penyakit ini telah memberikan dampak luas secara sosial dan ekonomi. Masih banyak kontroversi seputar penyakit ini, termasuk dalam aspek penegakan diagnosis, tata laksana, hingga pencegahan (Susilo, dkk., 2020: 45). Karena ini merupakan virus baru, maka obat penangkalnya masih diteliti lebih lanjut oleh pakar dibidangnya. Jadi kita dituntut untuk menjaga daya tahan tubuh, baik fisik maupun mental. Misalnya menjaga pola makan dengan baik, istirahat yang cukup, jaga jarak saat beraktivitas sekitar satu atau dua meter dan lain sebagainya.

Lalu bagaimanakah sikap kita sebagai orang yang beriman dalam menghadapi situasi dan kondisi di saat merebaknya wabah seperti saat ini? Ketahuilah bahwa setiap makhluk yang Allah ciptakan merupakan sebuah keniscayaan. Sekecil covid-19 pun tidaklah Allah menciptakannya tanpa ada sebuah hikmah dibaliknya.  Sebagai ulul albab atau manusia yang mempunyai akal pikir, hendaklah kita selalu berprasangka baik, tidak boleh gegabah bahkan menyalahkan ketentuan-Nya. Maka dengan akal pikir yang telah Allah berikan kepada kita, sudah sepantasnya kita gunakan untuk mentadabburi tanda-tanda kebesaran-Nya. Agar kita menjadi hamba yang selalu bersyukur dan taat kepada-Nya.

Jauh sebelum penemuan modern berkembang, al-Qur’an telah menyinggung terkait dengan mikroorganisme atau jasad renik seperti halnya virus, dalam Tafsir Ilmi Kemenag RI (2015: 11) dijelaskan bahwa penciptaan organisme yang sangat kecil disebutkan dalam Surah Saba’/34: 3, Yunus/10: 61, al-Haqqah/69: 38-39, dan Saba’/34: 22. Dalam Surah an-Nur/24: 45 dan beberapa ayat lain, jasad renik diindikasikan sebagai kata dabbah yang dipahami sebagai organisme yang bergerak, baik yang sudah maupun yang belum diketahui oleh manusia.

Ayat di atas dapat dipahami bahwa sebenarnya masih banyak hal-hal yang belum terungkap di dunia ini, baik perihal jenis, hakikat ataupun tujuan ciptaan-Nya. Ini mengingatkan manusia bahwa ilmunya terbatas agar selalu bersikap rendah hati terhadap makhluk-makhluk Allah bahkan kepada virus yang sangat kecil.

Namun, diantara kita pasti banyak yang berpikir mengapa Allah menciptakan makhluk seperti wabah covid-19 misalnya? Bukankah itu sangat berbahaya?! Bahkan tak jarang ada yang menyebutnya sebagai azab, mengingat virus tersebut berasal dari negara Cina lalu dikaitkannya dengan politik, gaya hidup bahkan makanan yang ada di negara tersebut. Tetapi setelah virus tersebut menyebar ke seluruh negara, bahkan ke negara yang berpenduduk muslim, lambat laun sikap yang saling menyalahkan dan saling curiga perlahan sirna walaupun masih ada yang bersikeras.

Mengutip dari pernyataan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. bahwa “Azab sudah tidak ada lagi, yang ada hanya musibah. Kalau azab hanya menimpa orang kafir, tidak menimpa orang beriman. Tapi kalau musibah, dua-duanya kena, siapa yang lengah, kena. Sama dengan bala,” papar beliau di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (14/3/2020). Azab tersebut bisa kita lihat pada umat-umat terdahulu, ketika Allah hendak menimpakan suatu azab kepada mereka. Maka Allah terlebih dahulu menyerukan kepada Nabi-Nya agar memperingatkan umatnya supaya kembali kepada jalan yang benar, bagi umatnya yang tetap ingkar azablah balasannya dan bagi umatnya yang beriman akan selamat di jalan-Nya.

Sebagaimana ketika Nabi Hud a.s. memberi peringatan kepada kaum ‘Ad karena berpaling dan menyembah kepada selain Allah. Lantas! Kaum tersebut bukannya kembali ke jalan Allah justru menantang Nabi Hud a.s. untuk menunjukkan azab yang telah diperingatkan sebelumnnya. Nabi Hud a.s. tetap sabar dan tabah akan perlakuan kaumnya tersebut. Hingga azab-Nya mulai diperlihatkan kepada mereka yaitu angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan mereka kaum ‘Ad menjadi tidak tampak lagi di bumi kecuali orang-orang yang beriman (baca Q.S Al-Ahqaf [46]: 21-25). Hal serupa terjadi kepada kaum Nabi Saleh a.s. yakni kaum Samud yang berbuat maksiat kepada Allah dan enggan bertaubat, mereka terperdaya oleh kesenangan sesaat hingga tersesatlah mereka dan azab Allah nyata padanya. Allah turunkan suara yang mengguntur dan menimpa orang-orang zalim di antara mereka, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu (Q.S Hud [11]: 61-68).

Demikian itulah halnya jika bencana berupa siksa, tetapi jika bencana yang menimpa menyentuh yang durhaka dan taat maka ia dinamai fitnah atau bala. Kedua kata ini digunakan oleh al-Qur’an dalam arti ujian atau cobaan (Shihab, 2020: 8). Artinya ujian atau cobaan bisa menimpa kepada siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Dalam konteks ini, Allah menegaskan di dalam firman-Nya:

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (٢٥)

Terjemah : “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (Q.S Al-Anfal [8]: 25)

Tafsir Kemenag : Allah menyerukan kepada orang-orang beriman, agar memelihara diri mereka dari siksaan, yang tidak hanya khusus menimpa orang-orang zalim itu saja di antara orang-orang beriman. Maksudnya ialah apabila di dalam suatu kaum perbuatan maksiat telah merata maka Allah akan menyiksa mereka itu secara keseluruhan. Siksaan itu tidak hanya bagi orang yang melakukan kemaksiatan itu saja, akan tetapi siksaan itu akan menimpa mereka secara merata tanpa pilih kasih, meskipun di dalamnya terdapat juga orang-orang yang saleh yang berada di antara mereka itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Terjemah: “Tidak ada suatu kaum yang sebagian besar orang-orangnya lebih terpedaya melakukan kemaksiatan dari yang tidak melakukan, kemudian mereka tidak mau mengubahnya selain Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang merata.” (Riwayat Ahmad dari Jarir)

Oleh sebab itulah di dalam masyarakat ada institusi yang mengurus kemaslahatan dan mengurus amar maruf dan nahi mungkar. Lembaga ini hendaknya bertugas meneliti kemaksiatan yang timbul dalam masyarakat, serta berusaha pula untuk mencari cara-cara pencegahannya. Juga lembaga ini berusaha untuk menggiatkan masyarakat melakukan segala yang diperintahkan oleh agama dan menghentikan segala sesuatu yang dilarang. Apabila kemaksiatan itu telah merata, dan masyarakat telah melupakan agama, maka bencana yang akan menimpa masyarakat itu tidak hanya akan menimpa suatu kelompok atas golongan tertentu saja, tetapi bencana itu akan dirasakan oleh anggota masyarakat, secara keseluruhan dan merata.

Di akhir ayat ini Allah memperingatkan orang-orang mukmin agar mereka itu mengetahui bahwa Allah amat pedih siksaan-Nya. Siksaan Allah ditimpakan atas siapa saja yang melanggar hukum-Nya. Ancaman Tuhan yang sangat keras ini akan berlaku apabila kejahatan itu telah merajalela dan merata di segenap anggota masyarakat itu tanpa pandang bulu. Sedangkan ancaman-ancamannya di akhirat ditimpakan kepada orang-orang, yang melakukannya sesuai dengan berat ringannya perbuatan yang dilakukan oleh orang itu.

Begitulah kiranya, ujian atau cobaan akan sama-sama menimpa keduanya, baik orang-orang yang beriman ataupun orang-orang yang zalim. Allah akan menguji setiap kaum beriman dengan berbagai ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan (bahan makanan). Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Dengan ujian ini, kaum Muslimin menjadi umat yang kuat mentalnya, kukuh keyakinannya, tabah jiwanya, dan tahan menghadapi ujian dan cobaan (Q.S Al-Baqarah [2]: 155). Sementara orang-orang yang zalim atau yang  mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung. Maka merugilah mereka dan jauh dari petunjuk-Nya (Q.S Al-An’am [6]: 21).

Hendaknya kita berlaku sabar atas ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Tetap bergantung dan memohon rida-Nya. Mari kita teladani para salafus shalih di dalam menghadapi segala ujian dan cobaan. Mereka tabah dan iman mereka tak goyah termasuk dalam menghadapi wabah. Justru mereka tetap produktif berkarya dan bermanfaat untuk orang lain. Sebut saja di antara mereka adalah Syamsuddin Muhammad bin Ali ash-Shalihi, Ibnu Najim, al-Haththab ar-Ra’ini al-Maliki, Syekhul Islam Zakariya al-Anshari dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani. Mereka menginspirasi umat yang kehilangan spiritualitas di tengah serangan wabah yang melanda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

Terjemah: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, No. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Wallahu a’lam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...