BOOK REVIEW FILSAFAT UMUM
Judul Buku :
Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra
Pengarang : Prof. Dr. Ahmad Tafsir
Terj :
xxxxxx
Penerbit : PT REMAJA ROSDAKARYA
Tahun : 2009
Tebal : 276 Halaman
Oleh Muhammad Syafi'i
A. PENDAHULUAN
Filsafat
memang tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Filsafat bahkan
diibaratkan seperti ratu dan induk dari semua ilmu pengetahuan, ratu yang
memahkotai semua ilmu dengan cirinya yang paling mendasar, yakni: bertanya.
Namun dalam filsafat, pertanyaan tersebut datang dari berbagai macam sisi,
khususnya dari sisi yang paling umum dan mendasar menyangkut hakikat, inti,
serta pengertian paling mendasar.
Poedjawijatna
(1974:1) menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata Arab yang berhubungan
rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata
Yunaninya ialah philosophia. Dalam
bahasa Yunani kata philosophia merupakan
kata majemuk yang terdiri atas philo dan
sophia; philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena
itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang
mendalam.
Buku
Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Chapra ini merupakan buku
cetakan ke tujuh belas, sebelumnya cetakan yang pertama diterbitkan pada tahun
1990.
Sekilas
tentang buku ini mencakup kajian-kajian filsafat yang cukup lengkap didalamnya.
Buku ini memiliki delapan bab yang dibahas pada masing-masing tema
pembahasannya sendiri. Dengan adanya khulasah, ulasan, kesimpulan, dan ikhtisar
di beberapa tiap akhir pada bagian babnya serta di muat juga dengan
kutipan-kutipan, daftar pustaka dan indeks, membuat mudah dalam memahami isi
pada tiap bahasannya. Selain itu nampak dari cover buku ini memiliki corak
abstrak berwarna yang mana menarik perhatian untuk membaca dan mengkaji buku
ini lebih dalam.
Selain
itu, buku ini memiliki kecenderungan dengan kritik logis dari penulis yang
Islami. Sehingga buku ini cocok ditujukan kepada pemula. Artinya, kepada siapa
saja yang baru belajar filsafat dan ingin tahu tentang filsafat secara umum, khususnya
untuk mahasiswa perguruan tinggi yang memang di tuntut dan harus mempelajari
atau mengkaji buku ini, karna buku ini merupakan pengantar kepada filsafat yang
harus dipelajari terlebih dahulu sebelum mempelajari buku-buku filsafat yang
lainnya.
Sebagai
penguat buku ini menerapkan lebih jauh cabang-cabang filsafat yang pernah
mendunia antara lain di mulai sejak filsafat Yunani sampai filsafat pascamodern,
tentunya hal itu mempunyai nilai tersendiri.
Dari
setiap keunikan dan kelebihan sebuah buku, tentunya setelah saya membaca buku
ini saya memiliki tanggapan tersendiri terhadap materi-materi yang ada di dalam
buku ini. Apa yang menjadi tanggapan saya, itulah yang telah saya pahami dari
hasil bacaan saya. Buku ini mampu menggambarkan filsafat supaya lebih mudah
untuk dipahami pembaca, penulis buku ini membuat suatu karya yang praktis
pengantar tentang filsafat.
B. ISI BUKU
Bab
I merupakan sebuah pendahuluan yang menjelaskan mengenai sistem yang hendak
diajukan dalam buku ini ialah: manusia ideal ialah manusia yang utuh, yaitu
manusia yang menggunakan indera, akal, dan hatinya secara seimbang, manusia
yang jalan hidupnya ditentukan oleh pertimbangan indera, akal, dan hatinya
secara seimbang, sekaligus, dan menyeluruh. Di dalam sistem ini dijelaskan
bahwa antara indera, akal dan hati tidaklah terdapat persengketaan; mereka
masing-masing mempunyai daerah, paradigma, metode, ukuran sendiri-sendiri;
mereka saling melengkapi.
Karena
buku ini disediakan untuk pelajar tingkat pemula maka uraian tentang apa
filsafat itu perlu diberikan lebih dulu (Bab II).
Bab
II merupakan sebuah pengantar, pada bagian ini diperkenalkan lebih dulu apa
filsafat itu, apa yang mendorong timbulnya filsafat, macam pengetahuan manusia,
faidah mempelajari filsafat, cara mempelajari filsafat, objek penelitian
filsafat, metode penelitian filsafat, dan terakhir struktur filsafat serta
beberapa isme dalam filsafat. Semua topik itu juga bertujuan memperkenalkan apa
filsafat itu sesungguhnya.
Penulis
buku ini Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan di dalam bukunya bahwa mula-mula filsafat
diartikan sebagai the love of wisdom atau
love for wisdom. Pada fase ini filsafat berarti sifat seseorang yang berusaha menjadi orang yang bijak atau sifat orang yang ingin atau cinta pada
kebijakan. Pada fase ini filsafat juga berarti sebagai kerja seseorang yang berusaha menjadi orang yang bijak. Jadi, yang
pertama filsafat sebagai sifat, dan
yang kedua filsafat sebagai kerja.
Sekedar catatan, Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer memberikan penjelasan mengenai seseorang yang
berfilsafat dapat diumpakan seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke
bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan
galaksi. Atau seseorang yang berdiri di puncak tinggi memandang arah dan lembah
di bawahnya.
Mengenai
hal-hal yang mendorong timbulnya filsafat Prof. Dr. Ahmad Tafsir menyatakan, bahwa
keingintahuanlah pada dasarnya penyebab timbulnya filsafat. Ingin tahu ini
dahulunya disebabkan oleh dongeng dan
keheranan pada kebesaran alam; pada zaman modern ingin tahu timbul karena
sangsi, lantas ingin kepastian. Ingin tahu dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan
menimbulkan filsafat.
Prof.
Dr. Ahmad Tafsir membagi macam-macam pengetahun manusia menjadi tiga, yaitu
pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan
sains ialah pengetahuan yang logis dan didukung oleh bukti yang empiris. Namun,
pada dasarnya pengetahuan sains tetaplah suatu pengetahuan yang berdasarkan
bukti nyata. Adapun pengetahuan filsafat ialah sejenis pengetahuan yang
diperoleh dengan cara berpikir logis tentang objek yang abstrak logis.
Sedangkan pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang ukuran kebenarannya
ditentukan oleh rasa, yakin, kadang-kadang empiris.
Menurut
beliau sekurang-kurangnya ada empat faidah mempelajari filsafat: agar terlatih
belajar serius, agar mampu mempelajari filsafat, agar mungkin menjadi filosof,
dan agar menjadi warga negra yang baik. Dan ada tiga metode mempelajari
filsafat: sistematis, historis dan kritis.
Beliau
juga membagi objek penelitian filsafat, yakni objek materia dan objek forma.
Objek materia adalah objek yang diselidiki filsafat. Objek materia ini banyak
yang sama dengan objek materia sains. Sedangkan objek forma adalah penyelidikan
yang mendalam. Artinya, ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagian
dalamnya. Kata mendalam artinyaingin tahu tentang objek yang tidak empiris.
Selain
itu Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan mengenai sistematika filsafat yang
mempunyai tiga cabang besar yang meliputi epistemologi, ontologi dan aksiologi.
Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelari soal tentang watak,
batas-batas, dan berlakunya ilmu pengetahuan. Ontologi ialah ilmu yang
membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang
berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Ontologi pertama kali
diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M. Sedangkan aksiologi adalah
salah satu cabang filsafat yang membahas masalah nilai, sehingga aksiologi
diartikan sebagai filsafat nilai.
Pada
bab III buku ini membahas mengenai akal dan hati pada zaman Yunani Kuno,
ciri-ciri umum filsafat Yunani adalah rasionalisme. Rasionalisme mencapai
puncaknya pada orang-orang sofis. Untuk melihat rasionalisme sofis perlu
memahami lebih dahulu latar belakangnya. Latar belakang itu terletak pada
pemikiran filsafat yang ada sebelumnya, yaitu pemikiran-pemikran Thales,
Anaximander, Heraclitus, Paramanides, Protagoras, Gorgias, Socrates, Plato dan
Aristoteles.
Pada
bab IV buku ini membahas mengenai akal dan hati pada abad pertengahan yang
dipengaruhi oleh beberapa tokoh, yang pertama
Plotinus (204-270) ajaran Plotinus atau Ployinisme erat kaitannya dengan
ajaran Plato, yakni menganut realitas idea, kedua Augustinus (354-430) alih-alih
akal dan pemikiran kritis diambilnya keimanan, alih-alih manusia dan
kemampuannya diambil kedaulatan Tuhan. Intelektualisme tidak penting dalam
sistemnya, yang penting ialah cinta kepada Tuhan (Mayer, 357) ketiga Anselmus
(1033-1109) ia mendahulukan iman daripada akal. Ia mengatakan bahwa wahyu harus
diterima lebih dulu sebelum kita mulai berpikir dan yang ke empat adalah Thomas
Aquinas (1225-1274) pandangannya tentang pengetahuan dipengaruhi oleh keyakinan
bahwa Tuhan adalah awal dan akhir segala kebijakan.
Pada
bab V Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan mengenai akal dan hati pada zaman
modern. Pada bab ini beliau menyatakan bahwa banyak oang yang jengkel oleh
dominasi gereja. Rene decrates jelas bertujuan untuk melepaskan filsafat dari
kekangan gereja, terlihat dari argumen cogito yang terkenal. Setelah itu banyak
bermunculan filsof-filsof yang lain. Akal yang dikekang selama kira-kira 1500
tahun itu sekarang berpesta pora merayakan kebebasannya. Adapun periode-periodenya
meliputi periode renaissance, rasionalisme, idealisme objektif, idealisme theist,
empirisme, pragmatisme dan eksistensialisme.
Selanjutnya
pada bab VI membahas mengenai akal dan hati di jalur timur. Beliau menjelaskan
di jalur timur, yaitu dunia Islam.
Mengenai sifat dominasi, akal di timur dihargai, tetapi tidak sampai
mendominasi jalan hidup sehingga orang Islam meninggalkan agama, lalu mengambil
materialisme danateisme. Filsafat Yunani banyak mempengaruhi perkembangan
filsafat dan sains dalam Islam. Filsafat Yunani mulai berkembang mulai
sejakkurang lebih tahun 600 SM. Islam lahir pada tahun 600-an. Filsafat dalam
Islam berkembang secara intensif sejak tahun 800-an.
Pada
bab VII membahas mengenai keseimbangan indera, akal dan hati. Beliau
menjelaskan kemantapan hidup hanya ditetentukan oleh dua hal, yaitu kaidah sains
dan filsafat di satu pihak dan akidah agama dipihak lain. Keduanya telah
diragukan pada masa sofisme. Tentu saja kehidupan menjadi kacau karena sistem
nilai telah kacau. Pada abad pertengahan, terutama sejak tahun 200-an, akal
kalah total dan iman menang mutlak. Keadan ini seharusnya telah dapat
diperhitungkan sebelum terjadi.
Terakhir
pada bab VIII Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan mengenai keseimbanga akal dan
hati pada zaman pascamodern. Bahwa, kritik filsafat pascamoden terhadap
filsafat modeern terungkap dalam istilah dekontruksi seperti yang digunakan
para tokoh filsafat pasca modern. Yang di dekonstruksi tentu saja rasionalisme
yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat. Beberapa
tokoh dalam filsafat pascamodern yaitu
Arkoun, Derrida, Foucault dan Wittgenstein.
C. PEMBAHASAN
Prof.
Dr. Ahmad Tafsir, penulis buku ini mampu menggambarkan filsafat supaya lebih
mudah untuk dipahami pembaca, beliau membuat karyanya membuat suatu karya yang
praktis pengantar filsafat yang membuat pembaca mengerti sedikit tentang
filsafat, beliau juga banyak memberikan contoh-contoh yang mudah dicerna dan di
pahami maksudnya. Buku filsafat umum ini mencoba meringkas beberapa pemikiran
tokoh filsafat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami, hal itu
menjadi suatu kelebihan dari buku ini. Dengan adanya khulasah, ulasan,
kesimpulan, dan ikhtisar di beberapa tiap akhir pada bagian babnya serta di
muat juga dengan kutipan-kutipan, daftar pustaka dan indeks, membuat mudah
dalam memahami isi pada tiap bahasannya.
Selain
itu, buku ini juga mempunyai isi yang terstruktur dengan baik. Penulis mulai
berbicara dengan hal-hal yang sederhana dan mendasar seperti yang ditemukan
pada bab I yang dimulai dengan pendahuluan,
pada bab II tentang apa itu filsafat, bab III dan seterusnya sudah mulai
masuk ke pembahasan, mulai dari filsafat Yunani, filsafat abad pertengahan,
filsafat abad modern, pemikiran filsafat di timur, hingga filsafat pascamodern.
Setidaknya kepingan informasi berhasil disusun penulis sebagaia bekal untuk memahami
apa yang dibicarakan pada bab berikutnya. Struktur isi buku ini terbangun
dengan baik dan alur buku ini terbagun dengan baik pula, membuat pembaca tidak
cepat jenuh dalam membalik setiap lembarannya.
Dilihat
dari desain sampulnya nampak dari cover buku ini memiliki corak abstrak
berwarna yang mana menarik perhatian untuk membaca dan megkaji buku ini lebih
dalam. Pemilihan warna biru yang mendominasi cover buku ini dan dengan desain
yang mengaplikasikan gambar seseorang yang sedang berpikir, tentu erat
kaitannya dengan filsafat itu sendiri dan memiliki makna yang sangat dalam.
Namun meski buku ini merupakan buku
pengantar filsafat yang praktis, tetap saja bagi orang awam masih kesulitan
untuk memahami filsafat.
D. PENUTUP
Secara
keseluruhan buku ini sangat cocok dan layak untuk bahan bacaan dan daftar
rujukan untuk mahasiswa. Selain itu, untuk semua kalangan umum yang ingin tahu
atau sekedar tahu mengenai apa itu filsafat. Buku ini menjawab semua
pertanyaan-pertanyaan yang mungkin belum terjawab mengenai tentang apa filsafat
itu sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Keraf, A. Sonny, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis,
Yogyakarta: Kanisius, 2001.