Sabtu, 01 Agustus 2020

“Memetik Hikmah dari Kisah Nabiyullah: Ikhlas dan Sabar”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

Alhamdulillah, tidak terasa program KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 kini sudah memasuki hari ke-23. Jadi, konten KKN saya pada kali ini video mengenai pemotongan hewan qurban. Ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa, disini kami juga ikut membantu menguliti hewan qurbannya. Mulai dari menyediakan alat untuk memotongnya hingga proses akhir selesai. Meskipun masa pandemi covid-19 belum usai, kami selalu semangat menjalankan berbagai program yang telah ditentukan, karena semangat kami untuk agama, bangsa dan negara: terus berkobar tiada padam.

Pada hakikatnya berqurban merupakan ajaran Nabiyullah Ibrahim ‘alahis salaam. Ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih putra tercintanya Ismail ‘alahis saam. Dan tidaklah Allah menguji keduanya tanpa ada hikmah yang turun dari-Nya. Benar saja, itu merupakan ujian untuk sebuah taat seorang hamba kepada Rabb-Nya. Kemudian Ismail ‘alahis salaam yang semula dijadikan qurban untuk menguji ketaatan Nabiyullah Ibrahim ‘alahis salaam, diganti Allah dengan seekor domba besar yang putih bersih dan tidak ada cacatnya. Maka oleh sebab itu, kita dapat mengambil sebuah pelajaran yang berharga. Bahwa ikhlas dan sabar akan membuahkan hasil; ibaratkan sebuah anggur yang manis dan enak dipandang mata. Mengenai peristiwa tersebut, bisa kita tadabburi melalui firman-Nya:

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ (١٠٧)

Terjemah: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Q.S As-Saffat [37]: 107)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini ditegaskan bahwa apa yang dialami Ibrahim dan putranya itu merupakan batu ujian yang amat berat. Memang hak Allah untuk menguji hamba yang dikehendaki-Nya dengan bentuk ujian yang dipilih-Nya berupa beban dan kewajiban yang berat. Bila ujian itu telah ditetapkan, tidak seorang pun yang dapat menolak dan menghindarinya. Di balik cobaan-cobaan yang berat itu, tentu terdapat hikmah dan rahasia yang tidak terjangkau oleh pikiran manusia.

Ismail yang semula dijadikan kurban untuk menguji ketaatan Ibrahim, diganti Allah dengan seekor domba besar yang putih bersih dan tidak ada cacatnya. Peristiwa penyembelihan kambing oleh Nabi Ibrahim ini yang menjadi dasar ibadah kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah, dilanjutkan oleh syariat Nabi Muhammad. Ibadah kurban ini dilaksanakan pada hari raya haji/raya kurban atau pada hari-hari tasyriq, yakni tiga hari berturut-turut sesudah hari raya kurban, tanggal 11, 12, 13 Zulhijah.

Hewan kurban terdiri dari binatang-binatang ternak seperti unta, sapi, kerbau, dan kambing. Diisyaratkan binatang kurban itu tidak cacat badannya, tidak sakit, dan cukup umur. Menyembelih binatang untuk kurban ini hukumnya sunnah muakkadah(sunah yang ditekankan). Firman Allah: Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). (al-Kautsar/108: 2) Dengan disyariatkannya ibadah kurban dalam agama Islam, maka peristiwa Ibrahim menyembelih anaknya akan tetap dikenang selama-lamanya dan diikuti oleh umatnya. Ibadah kurban juga menyemarakkan agama Islam karena daging-daging kurban itu dibagi-bagikan kepada masyarakat terutama kepada fakir miskin.

Berqurban merupakan amalan yang sangat mulia, keutamaanya pun dapat kita ketahui dari salah satu hadis Nabi. Sebagaimana berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَلَفٍ الْعَسْقَلَانِيُّ حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ مِسْكِينٍ حَدَّثَنَا عَائِذُ اللَّهِ عَنْ أَبِي دَاوُدَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ

Terjemah: “Berkata kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani, berkata kepada kami Adam bin Abi Iyas, berkata kepada kami Sullam bin Miskin, berkata kepada kami ‘Aidzullah, dari Abu Daud, dari Zaid bin Arqam, dia berkata: berkata para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.” [HR. Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3127]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...