Sabtu, 08 Agustus 2020

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

 Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020


Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i

Vocal: Muhammasd Sapi’i

Editor: Muhammad Sapi’i

Aransemen Lagu: Beza Simamora – BES Studio

NEGERI PARA PEJUANG

Oleh: Muhammad Sapi’i

P=anji juang kini berkibar di tiang penuh keringat para pahlawan

A=pi semangat berkobar menembus selaksa nalar

D=ada membusung pertanda gendrang ditabuh pemantik asa

A=feksi rasa riuh bergemuruh menembus relung prayitna

M=erdeka harus kita rengkuh agar terus bertumbuh di tanah air kita

U=mumkan pada dunia bahwa kita ada dengan sejuta barisan pemuda

 

N=irmala gelorakan jangan padam oleh terpaan badai                                                                                                                                                                                                                                            E=legi juang mari kita renungkan dalam hening cipta pada Sang Kuasa

G=ema takbir lantang memekik cakrawala angkasa raya

E=ra kini semakin kaya teknologi besi dan baja

R=epublik harus tetap kokoh di atas itu semua

I=ndonesia namamu masyhur hingga seantero buana

 

K=ita harus maju bersama di bumi Pancasila

A=yolah para generasi muda penerus para pahlawan bangsa

M=entalitas kita pupuk bersama demi juang nusantara

I=ntan, emas, permata segudang kekayaan kita

 

M=ari jaga dan makmurkan untuk para rakyat jelata

E=nyahlah para penjajah kami tak sudi dengan tamu tak tahu diri

N=estapa jangan sampai menghantui anak bangsa

G=ugur para pahlawan menjadi saksi juang tak boleh berhenti

A=ngkatlah tangan dan singsingkan lengan baju

B=ersama kita maju bersama kita serbu

D=engan do’a, usaha dan cita-cita mulia

I=nna ma’al usri yusra: “Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (al-Ayat)

Palangka Raya, 08 Agustus 2020

Puisi di atas kupersembahkan kepada negeri jaya sakti Indonedsia tercinta, sebagai sambutan Hari Kemerdekaan yang ke-75 pada tanggal 17 Agustus 2020 mendatang. Meskipun wabah pandemi belum usai, semangat nasionalisme kita tidak boleh padam. Mari kita satukan pemikiran dan langkah, jangan sampai perpecahan ada dan bertumbuh. Semoga negeri ini menjadi negeri yang aman dan damai sebagaimana di dalam firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ  ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ  ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ (١٥)

Terjemah: Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (Q.S Saba [34]: 15)

Tafsir Kemenag: Di sebelah selatan negeri Yaman berdiam suatu kaum bernama Saba. Mereka menempati suatu daerah yang amat subur sehingga mereka hidup makmur dan telah mencapai kebudayaan yang tinggi. Mereka dapat menguasai air hujan yang turun lebat pada musim tertentu dengan membangun sebuah bendungan raksasa yang dapat menyimpan air untuk musim kemarau. Bendungan itu boleh dikatakan bendungan alami karena terletak di antara dua buah bukit dan di ujungnya didirikan bangunan yang tinggi untuk mencegah air mengalir sia-sia ke padang pasir. Mereka membuat pintu-pintu air yang bila dibuka dapat mengalirkan air ke daerah yang mereka kehendaki. Bendungan ini terkenal dengan Bendungan Marib atau Bendungan al-Arim.

Banyak di antara ahli sejarah dan peneliti di barat meragukan tentang adanya Bendungan Ma'rib ini. Akhirnya seorang peneliti dari Perancis datang sendiri ke selatan Yaman untuk menyelidiki sisa-sisa bendungan itu pada tahun 1843. Dia dapat membuktikan adanya bendungan itu dengan menemukan bekas-bekasnya, lalu memotret dan mengirimkan gambar-gambarnya ke suatu majalah di Perancis. Para peneliti lainnya menemukan pula beberapa batu tulis di antara reruntuhan bendungan itu. Dengan demikian, mereka bertambah yakin bahwa dahulu kala di sebelah selatan Yaman telah berdiri sebuah kerajaan yang maju, makmur, dan tinggi kebudayaannya.

Pada ayat ini, Allah menerangkan sekelumit tentang kaum Saba yang mendiami daerah sebelah selatan Yaman itu. Mereka menempati sebuah lembah yang luas dan subur berkat pengairan yang teratur dari Bendungan Marib. Di kiri dan kanan daerah mereka terbentang kebun-kebun yang amat luas dan subur yang menghasilkan bahan makanan dan buah-buahan yang melimpah ruah.

Kaum Saba’ pada mulanya menyembah matahari, namun setelah pimpinan kerajaan dipegang Ratu Balqis, mereka menjadi kaum yang beriman dengan mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Sulaiman. Hal ini diceritakan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba' membawa suatu berita yang meyakinkan. Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar. Aku (burung Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk.” (an-Naml/27: 22-24)

Tetapi, lama-kelamaan kaum Saba' menjadi sombong dan lupa bahwa kemakmuran yang mereka miliki adalah anugerah dari Yang Mahakuasa dan Maha Pemurah. Allah dengan perantaraan rasul-Nya memerintahkan agar mereka mensyukuri-Nya atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkan kepada mereka. Negeri mereka menjadi subur dan makmur berkat karunia Allah Yang Maha Pengampun, melindungi mereka dari segala macam bahaya dan malapetaka.

Jumat, 07 Agustus 2020

"Hand Made: Cara Membuat Masker Kain"

Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, dr. Erlina Burhan, Sp.P, mengatakan bahwa penggunaan masker kain bisa menjadi alternatif bagi orang yang sehat sebagai bagian proteksi diri dari ancaman virus. Namun, masyarakat tetap harus menjaga jarak aman sejauh satu hingga dua meter dari orang lain saat berada di tempat ramai. Jika memang benar-benar tidak punya masker, maka kita bisa membuat masker kain sendiri lho. Pokoknya, wajib punya masker ya karena mencegah lebih baik daripada mengobati! (lihat CARE Indonesia).

Selain itu, praktik membuatnya sangat mudah, perlengkapan untuk membuatnya pun sangat ekonomis. Bisa dibuat oleh siapapun dan dimana pun, yang terpenting selalu menjaga kesehatan diri masing-masing, salah satunya dengan menggunakan masker. Karena kesehatan sangat penting dan urgen. Namun, selalu rutin untuk mengganti masker yang kotor, semisal dengan menyediakan masker cadangan. Sebab, kebersihan merupakan awal dari sehat, apabila kita selalu menjaga kebersihan, in syaa Allah kesehatan badan kita akan terjaga. Sebagaimana di dalam salah satu firman-Nya:

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ  وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ (١٢٥)

Terjemah: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim  itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!” (Q.S Al-Baqarah [2]: 125)

Tafsir Kemenag: Diperintahkan kepada Nabi Muhammad saw, dan kaum Muslimin agar mengingat ketika Allah menjadikan Ka'bah sebagai tempat berkumpul manusia, tempat yang aman, dan menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Maqam Ibrahim ialah tempat berpijak bagi Ibrahim ketika membangun Ka’bah. Perintah Allah kepada Ibrahim dan Ismail itu untuk menenteramkan hati Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin dalam menghadapi keingkaran orang kafir dan untuk menerangkan kepada orang musyrik, Yahudi dan Nasrani bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad itu seasas dengan agama yang dibawa Nabi Ibrahim, agama nenek moyang mereka.

Ada dua faedah yang dapat diambil dari ayat di atas sehubungan dengan didirikannya Ka’bah: Pertama, tempat berkumpul bagi manusia untuk ibadah. Sejak zaman dahulu sebelum Nabi Muhammad saw diutus sampai saat ini Ka’bah atau Mekah telah menjadi tempat berkumpul manusia dari segala penjuru, dari segala macam bangsa dalam rangka menghormati dan melaksanakan ibadah haji. Hati mereka merasa tenteram tinggal di sekitar Ka'bah. Setelah mereka kembali ke tanah air, hati dan jiwa mereka senantiasa tertarik kepadanya dan selalu bercita-cita ingin kembali lagi bila ada kesempatan.

Kedua, Allah swt menjadikannya sebagai tempat yang aman. Maksudnya, Allah menjadikan tanah yang berada di sekitar Masjidilharam sebagai tanah dan tempat yang aman bagi orang-orang yang berada di sana. Sejak dahulu sampai saat ini orang-orang Arab mengagungkan dan menyucikannya.

Orang-orang Arab terkenal dengan sifat suka menuntut bela atas orang atau kabilah yang membunuh atau menyakiti atau menghina keluarganya. Di mana saja mereka temui orang atau kabilah itu, penuntutan balas akan mereka laksanakan. Kecuali bila mereka menemuinya di Tanah Haram, mereka tidak mengganggu sedikit pun. Dalam pada itu sejak zaman dahulu banyak usaha dari orang-orang Arab sendiri atau dari bangsa-bangsa yang lain untuk menguasai Tanah Haram atau untuk merusak Ka’bah, tetapi selalu digagalkan Allah, seperti usaha Abrahah Raja Najasyi dengan tentaranya untuk menguasai Tanah Haram dan Ka’bah. Mereka dihancurkan.

Allah berfirman: Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (al-Fil/105:1-5)

Tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia di sekitarnya saling merampok. Mengapa (setelah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil dan ingkar kepada nikmat Allah? (al-‘Ankabut/29:67)

Allah memerintahkan agar Maqam Ibrahim dijadikan sebagai tempat salat. Faedah perintah itu ialah untuk menghadirkan perintah itu di dalam pikiran atau agar manusia mengikuti apa yang diperintahkan itu, seolah-olah perintah itu dihadapkan kepada mereka sehingga perintah itu tertanam di dalam hati mereka dan mereka merasa bahwa diri mereka termasuk orang yang diperintah. Dengan demikian, maksud ayat ialah: Orang-orang dahulu yang beriman kepada Ibrahim a.s. diperintahkan agar menjadikan sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Perintah itu ditujukan pula kepada orang-orang yang datang kemudian, yang mengakui Ibrahim a.s., sebagai nabi dan rasul Allah dan mengakui Nabi Muhammad saw, salah seorang dari anak cucu Ibrahim a.s. sebagai nabi yang terakhir.

Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membersihkannya dalam arti yang sebenarnya dan dalam arti kiasan. Membersihkan dalam arti yang sebenarnya ialah membersihkan dari segala macam benda yang dihukumkan najis, seperti segala macam kotoran dan sebagainya. Membersihkan dalam arti kiasan ialah membersihkannya dari segala macam perbuatan yang mengandung unsur-unsur syirik, perbuatan menyembah berhala, perbuatan-perbuatan yang terlarang, bertengkar dan sebagainya.

Perintah membersihkan Ka'bah ini sekalipun ditujukan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail, tetapi termasuk juga orang-orang yang datang sesudahnya. Allah menamakan Ka’bah yang didirikan itu dengan “Rumah Allah” (Baitullah). Penamaan itu bukan berarti Allah tinggal di dalam atau di sekitar Ka’bah. Tetapi maksudnya ialah bahwa Allah menjadikan rumah itu tempat beribadah kepada-Nya dan dalam beribadah menghadap ke arah Ka’bah.

Hikmah menjadikan Ka’bah sebagai “rumah Allah” dan menjadikan sebagai arah menghadap di dalam beribadah kepada Allah Pencipta dan Penguasa seluruh makhluk agar manusia merasa dirinya dapat langsung menyampaikan pujian, pernyataan syukur, permohonan pertolongan dan permohonan doa kepada Allah.

Manusia kurang dapat menyatakan pikirannya dalam beribadah kepada Allah bila tidak dilakukan di tempat tertentu dan menghadap ke arah tertentu. Dengan adanya tempat tertentu dan arah tertentu, manusia dapat menambah imannya setiap saat, memperdalam pengetahuannya, dan mempertinggi nilai-nilai rohani dalam dirinya. Karena dengan demikian dia merasakan seolah-olah Allah ada di hadapannya demikian dekat, sehingga tidak ada yang membatasi antaranya dengan Allah.

Pada ayat yang lain ditegaskan bahwa ke mana saja manusia menghadap dalam beribadah, berdoa akan menemui wajah Allah, dan sampai kepada-Nya, karena Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa penamaan Ka'bah sebagai rumah Allah hanyalah untuk mempermudah manusia dalam membulatkan pikirannya dalam beribadah. Pada asasnya Allah Mahabesar, Maha Mengetahui lagi Mahaluas.

Kamis, 06 Agustus 2020

“Herbal Tropis Cegah Covid: Sehat, Senyum, ceria”


      Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

Professor Nidom Foundation (PNF) mengungkapkan perkembangan hasil penemuan empon-empon yang diklaim bisa menjadi formula antiviral untuk menangkal virus corona. Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin  lembaga tersebut, Prof Dr Chairul Anwar Nidom drh.,MS menjelaskan formula terbaik yang ditemukan ada tiga sample. Ketiganya berbahan dasar dari jahe, kunyit, sereh, dan temulawak (lihat Surya.co.id)

Jahe misalnya, merupakan herbal yang sarat akan khasiat. Bahkan Allah mengabadikannya di dalam al-Qur’an:

وَيُسْقَوْنَ فِيْهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيْلًاۚ (١٧)

Terjemah: “Dan di sana mereka diberi segelas minuman bercampur jahe.” (Q.S Al-Insan [76]: 17)

Tafsir Kemenag: Kemudian disebutkan jenis minuman yang dihidangkan di surga, yakni mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya jahe. Maksudnya penduduk surga disuguhi minuman yang terbuat dari zanjabil, yakni sejenis tumbuhan yang lezat cita-rasanya dan tumbuh di daerah Timur Tengah dahulu kala. Biasanya zanjabil digunakan untuk wangi-wangian dan orang-orang Arab menyukainya. Ada pula yang mengatakan nama dari Bait Ma’ruf.

Menurut Ibnu ‘Abbas, minuman, makanan, mata air, buah-buahan, dan lain-lain dalam surga yang disebutkan Al-Qur’an, satu pun tidak ada tandingannya. Kesamaan hanya pada namanya, sedangkan rasanya jauh lebih lezat.

Selain jahe, kunyit, sereh, dan temulawak juga sarat akan khasiat. Kandungannya sangat baik untuk tubuh dan tanpa ketergantungan, karena ini merupakan herbal alami. Jadi, aman dikonsumsi rutin, namun lebih baik sesuai kebutuhan yang disarankan medis.

Reference:

- Qur’an Kemenag

- Femina Indonesia

- Surya.co.id

Rabu, 05 Agustus 2020

“Tarbiyatul Aulad: Pendidikan Anak Berbasis Al-Qur’an dan Hadis” Orang Tua dan Guru Wajib Dampingi Anak / Murid di Internet.



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

Masa pandemi, Internet kian menjadi tumpuan anak / murid untuk belajar, sosialisasi hingga hiburan. Namun hal negatif semisal konten dewasa hingga terkaman pedofil mengincar. Orang tua dan guru, dampingi selalu anak / murid ketika online dan cegah data pribadi mereka tersebar (lihat covid19.go.id). Menjaga data dan privasi pribadi anak / murid sangatlah penting, kita patut waspada karena kejahatan di dunia maya atau media sosial selalu mengincar siapapun tanpa pandang bulu.

Marilah kita cegah bersama sebelum itu terjadi, dengan cara membimbing atau mengawasi anak / murid di dalam proses belajar tersebut. Selain itu, batasi penggunaan Internet pada mereka, ketika belajarnya sudah selesai langsung perintah untuk istirahat atau melakukan kegiatan positif lainnya, agar anak / murid tidak terlalu candu pada Internet, karena usia belia masih rentan dalam penggunaan media sosial.

Karena orang tua atau guru merupakan akar pendidikan para anak / murid. Terlebih orang tua, yang merupakan sekolah pertama bagi para anak-anaknya. Maka orang tua harus menjaga amanah tersebut yang telah dititipkan oleh Sang Pencipta. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (٢٧)

Terjemah: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Q.S Al-Anfal [8]: 27)

Tafsir Ringkas Kemenag: Bersyukur adalah sebuah keharusan, sebab aneka nikmat tersebut bersumber dari Allah. Tidak bersyukur berarti mengkhianati nikmat tersebut dari Pemberinya, karena itu Allah menyatakan, Wahai orangorang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati, yakni mengurangi sedikit pun hak Allah sehingga mengkufurinya atau tidak mensyukurinya, dan juga jangan mengkhianati Rasul, yakni Nabi Muhammad, tetapi penuhilah seruannya, dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu oleh siapa pun, baik amanat itu ada-lah amanat orang lain maupun keluarga; seperti istri dan anak, muslim atau non-muslim, sedang kamu mengetahui bahwa itu adalah amanat yang harus dijaga dan dipelihara. Segala sesuatu yang berada dalam genggaman manusia adalah amanat Allah yang harus dijaga dan dipelihara. Salah satu bentuk motivasi mengkhianati amanat Allah dan Rasul-Nya adalah cinta kepada harta dan anak yang berlebihan. Maka pada ayat ini Allah menyatakan, Dan ketahuilah bahwa hartamu yang merupakan titipan Allah kepadamu dan anak-anakmu yang merupakan anugerah Allah itu hanyalah sebagai cobaan. Maka, ja-nganlah berlebihan dalam mencintai harta dan anak melebihi cinta pada Allah. Cinta harta dan anak yang berlebihan membuat seseorang enggan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya karena takut atau kikir, sebab panggilan tersebut menuntut tanggung jawab dan pengorbanan. Dan ketahuilah, sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar, jauh lebih besar daripada harta dunia dan anak keturunan.

Demikian pula, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua. Dari Ibnu Radhiallahu ‘Anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Terjemah: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari, no. 2278).

Selasa, 04 Agustus 2020

“Menu Sehat di Tengah Pandemi: Daging Sapi Kecap Pedas”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

Selasa, 04 Agustus 2020  masih disini dengan sejuta asa dan kobaran api semangat menembus hingga petala langit biru. Terik mentari melengkapi tautan sang bayu yang menari menerpa rerumputan hijau di bumi tambun bungai. Keseharian diisi dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari tempat tinggal dan lingkungan sekitar. Dihari ke-26 kini berbagi resep menu sehat di tengah pandemi covid-19. Itu guna menambah asupan nutrisi agar badan sehat dan menangkal radikal bebas. Menu sehat kali ini ialah “Daging Sapi Kecap Pedas”. Daging sapi menyimpan banyak nutrisi, bahkan Allah mengabadikan namanya di dalam sebuah surah (Al-Baqarah) dan merupakan hewan mamalia dan sering diternak.

Selain sehat tentu harus halalan thayyiban dan avlhamdulillah sapi yang diolah sudah sesuai dengan standar syariat Islam dengan cara memotong sebagaimana mestinya dan lain sebagainya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ (١٦٨)

Terjemah: "Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu." (Q.S Al-Baqarah [2]: 168)

Tafsir Ringkas Kemenag: Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal, yaitu yang tidak haram, baik zatnya maupun cara memperolehnya. Dan selain halal, makanan juga harus yang baik, yaitu yang sehat, aman, dan tidak berlebihan. Makanan dimaksud adalah yang terdapat di bumi yang diciptakan Allah untuk seluruh umat manusia, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan yang selalu merayu manusia agar memenuhi kebutuhan jasmaninya walaupun dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah. Waspadailah usaha setan yang selalu berusaha menjerumuskan manusia dengan segala tipu dayanya. Allah mengingatkan bahwa sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu, wahai manusia.  Sebagai musuh manusia, sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat, yaitu perbuatan yang mengotori jiwa dan berakibat buruk terhadap kehidupan meskipun tanpa sanksi hukum duniawi, seperti menyakiti sesama, menebar permusuhan, merusak persatuan dengan cara mengadu domba dan menyebar kebohongan, berhati dengki, angkuh dan sombong, dan setan juga menyuruh manusia berbuat keji, yaitu perbuatan yang tidak sejalan dengan tuntunan agama dan akal sehat, khususnya yang telah ditetapkan sanksi duniawinya, seperti zina dan pembunuhan, dan setan juga membisikkan agar kamu mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah dengan mengatakan bahwa Allah punya istri dan punya anak, padahal Allah Mahasuci dari hal tersebut.

Adapun resep menu sehatnya beserta langkah-langkah membuatnya sebagaimana berikut:

·         Bahan-bahan:

        500 gram daging sapi (iris tipis)

        5 siung bawang merah (iris tipis)

        4 siung bawang putih (iris tipis)

        1 bh tomat ukuran sedang (potong kecil)

        2 lembar daun salam

        2 lmbar daun jeruk

        3 sdm kecap manis (sesuai selera)

        1/4 sdt lada bubuk

        Gula dan garam

        Penyedap (seperti masako sapi)

        Minyak goring secukupnya

        2 gelas air matang

        Cabai (sesuai selera)

·      Langkah-Langkah:

        Panaskan sedikit minyak tumis bawang merah, bawang putih dan tomat oseng2 hingga layu

        Masukan daging sapi oseng-oseng hingga kira-kira aroma bawang meresap ke daging lalu tambahkan 2 gelas air mateng

        Tunggu hingga mendidih, setelah itu masukan daun salam dan daun jeruk, kemudian aduk dan tunggu sampai airnya menyusut atau dagingnya empuk

        Masukan kecap, gula dan garam serta dan lada aduk

        Angkat dan sajikan dengan nasi

Sumber Resep: Cookpad.com

Senin, 03 Agustus 2020

“Bimbingan Membaca Al-Qur’an dengan Metode Tilawati di Tengah Pandemi Covid-19”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

Palangka Raya –  Senin, 03 Agustus 2020 pukul 15.30 WIB – selesai. Bertempat di Jl. G. Obos XII/Jl. Mutiara III No. 165 Palangka Raya telah dilaksanakannya program kegiatan KKN-DRSK mengajar atau membimbing anak-anak mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Adapun metode yang digunakan pada pembelajaran tersebut adalah Metode Tilawati.

Metode Tilawati adalah suatu metode mengajar membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah dan aturannya. Mereka para ahli atau praktisi pengajar Al-Qur’an melakukan penelitian dari berbagai metode yang ada, khususnya di Indonesia dan akhirnya lahirlah metode tilawati ini (lihat minanews.net).

Mengajarkan Al-Qur’an bukan hanya panggilan hati, tetapi merupakan suatu kewajiban. Karena ilmu memang harus kita ajarkan dan tidak boleh hanya untuk diri sendiri. Sebab, cahaya ilmu akan menerangi semesta jika kita menyalakan dengan berusaha belajar dan mengajarkannya. Sehingga Allah akan menuntun ke suatu jalan kemenangan bagi pari pencari ilmu, wabil khusus para pengkaji Al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

 

عَن عُثَمانَ رَضِىَ اللٌهُ عَنهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صٌلَى اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلٌمَ خَيُركُم مَن تَعلٌمَ القُرانَ وَعَلٌمَهَ ( رواه البخاري وابو داود والترمذي والنسائ وابي ماجه هكذا في الترغيب وعزاه الى مسلم ايضا لكن حكي الحافظ في الفضح عن ابي العلاء ان مسلما سكت عنه ).

Terjemah: “Dari Utsman RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah)

Al-Qur’an memang sangat istimewa, dan pahalanya sangat luar biasa. Sebagaimana di dalam salah satu hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

Terjemah: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur'an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al-Jami’, no. 6469)

Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan di dalam berfirman-Nya:

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ (٢٩)

Terjemah: “Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (Q.S Sad [38]: 29)   

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa Dia telah menurunkan Al-Qur'an kepada Rasulullah saw dan para pengikutnya. Al-Qur'an itu adalah kitab yang sempurna mengandung bimbingan yang sangat bermanfaat kepada umat manusia. Bimbingan itu menuntun manusia agar hidup sejahtera di dunia dan berbahagia di akhirat. Dengan merenungkan isinya, manusia akan menemukan cara-cara mengatur kemaslahatan hidup di dunia. Tamsil ibarat dan kisah dari umat terdahulu menjadi pelajaran dalam menempuh tujuan hidup mereka dan menjauhi rintangan dan hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan hidup. Al-Qur’an itu diturunkan dengan maksud agar direnungkan kandungan isinya, kemudian dipahami dengan pengertian yang benar, lalu diamalkan sebagaimana mestinya. Pengertian yang benar diperoleh dengan jalan mengikuti petunjuk-petunjuk rasul, dengan dibantu ilmu pengetahuan yang dimiliki, baik yang berhubungan dengan bahasa ataupun perkembangan masyarakat. Begitu pula dalam mendalami petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam kitab itu, hendaknya dilandasi tuntunan rasul serta berusaha untuk menyemarakkan pengalamannya dengan ilmu pengetahuan hasil pengalaman dan pemikiran mereka.

Al-hasan al-Bashri menjelaskan pengertian ayat ini dengan mengatakan, “Banyak hamba Allah dan anak-anak yang tidak mengerti makna Al-Qur’an, walaupun telah membacanya di luar kepala. Mereka ini hafal betul hingga tak satu pun huruf yang ketinggalan. Namun mereka mengabaikan ketentuan-ketentuan Al-Qur’an itu hingga salah seorang di antara mereka mengatakan, “Demi Allah saya telah membaca Al-Qur’an, hingga tak satu huruf pun yang kulewatkan.” Sebenarnya orang yang seperti itu telah melewatkan Al-Qur’an seluruhnya, karena pengaruh Al-Qur’an tidak tampak pada dirinya, baik pada budi pekerti maupun pada perbuatannya. Demi Allah, apa gunanya ia menghafal setiap hurufnya, selama mereka mengabaikan ketentuan-ketentuan Allah. Mereka itu bukan ahli hikmat dan ahli pemberi pengajaran. Semoga Allah tidak memperbanyak jumlah orang yang seperti itu.”

Ibnu Mas’ud mengatakan:Orang-orang di antara kami apabila belajar sepuluh ayat Al-Qur’an, mereka tidak pindah ke ayat lain, sampai memahami kandungan sepuluh ayat tersebut dan mengamalkan isinya. (Riwayat Ahmad)

Minggu, 02 Agustus 2020

“Puncak Arus Balik Idul Adha 2020: Patuhi Protokol Kesehatan Saat Bertransportasi”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

Dilansir dari Republika.co.id (Rep: Rahayu Subekti–Red: Friska Yolandha, 2/8/2020) bahwa Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat adanya peningkatan pergerakan penumpang transportasi umum pada masa Libur Idul Adha di terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan. Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati mengatakan puncak arus balik Idul Adha 2020 akan terjadi pada hari ini, Ahad (2/8).

Sebelumnya Kemenhub memprediksi akan terjadi peningkatan penumpang pada hari Raya Idul Adha 2020 karena jatuh pada Jumat (31/7) saat akhir pekan. “Berdasarkan pantauan kami, sejumlah penumpang transportasi umum mengalami peningkatan dibanding hari biasa,” kata Adita dalam pernyataan tertulis, Ahad.

Oleh sebab itu, masyarakat yang sedang melakukan perjalanan dihimbau untuk selalu mematuhi protokol kesehatan. Terutama para lansia dan ibu hamil agar tetap sehat dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, himbauan ini berlaku untuk semua kalangan tanpa terkecuali. Hendaknya kita tiada hentinya untuk selalu bekerjasama dalam memutus mata rantai penyebaran covid-19 yang penyebarannya belum sepenuhnya terkendalikan. Tetapi, kita selalu optimis berusaha untuk mencegahnya.

Karena itu, kesehatan sangat penting dan kita dianjurkan untuk menjaga kesehatan; supaya badan sehat dan aktivitas lancar serta jangan lupa memohon kepada-Nya agar wabah pandemi covid-19 ini segera berakhir. Dalam hal ini kita patut mencontoh dari kisah Nabiyullah Ayyub ‘alahis salaam, beliau sangat tabah dan sabar dalam menghadapi ujian atau cobaan dari Rabb-Nya. Sebagaimana di dalam firman-Nya:

۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ ۚ (٨٣)

Terjemah: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (Q.S Al-Anbiya’ [21]: 83)

Tafsir Kemenag: Dengan ayat ini Allah mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Ayyub a.s. yang ditimpa suatu penyakit yang berat sehingga berdoa memohon pertolongan Tuhannya untuk melenyapkan penyakitnya itu, karena ia yakin bahwa Allah amat penyayang.

Pendapat ulama lain mengatakan bahwa Nabi Ayyub pada ayat ini hanya mencurahkan isi hatinya kepada Allah seraya mengagungkan kebesaran Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Walaupun berbeda-beda riwayat yang diperoleh tentang Nabi Ayyub, baik mengenai pribadinya, masa hidupnya dan macam penyakit yang dideritanya, namun ada hal-hal yang dapat dipastikan tentang dirinya, yaitu bahwa dialah seorang hamba Allah yang saleh, telah mendapat cobaan dari Allah, baik mengenai harta benda, keluarga, dan anak-anaknya, maupun cobaan yang menimpa dirinya sendiri. Dan penyakit yang dideritanya adalah berat. Meskipun demikian semua cobaan itu dihadapinya dengan sabar dan tawakkal serta memohon pertolongan dari Allah dan sedikit pun tidak mengurangi keimanan dan ibadahnya kepada Allah.

Kemudia Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pada ayat selanjutnya:

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ (٨٤)

Terjemah: “Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” (Q.S Al-Anbiya’ 21:84)

Tafsir Kemenag: Oleh sebab itu, dalam ayat ini Allah mengabulkan doanya dan menyembuhkannya dari penyakit itu, serta mengaruniainya rahmat yang lebih banyak dari apa yang telah hilang dari tangannya, dan kemudian Allah mengangkatnya menjadi nabi.

Setelah Nabi Ayyub sembuh dari penyakitnya beliau hidup bersama keluarganya kembali, dan keluarganya itu berkembang biak pula dengan subur, sehingga jumlahnya menjadi dua kali lipat dari jumlah semula.

Kesemuanya itu adalah rahmat Allah kepadanya, atas keimanan, kesabaran, ketakwaan dan kesalehannya, Al-Qur'an mengungkapkan kisah ini untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi semua orang yang beriman dan beribadah kepada Allah, bahwa:

a.       Allah memberi rahmat dan pertolongan kepada hamba-Nya yang mukmin, bertakwa, saleh dan sabar.

b.       Orang-orang yang mukmin pun tidak luput dari cobaan, berat atau pun ringan, sebagai ujian bagi mereka.

c.       Orang yang beriman tidak boleh berputus asa dari rahmat Tuhannya.

Semakin tinggi kedudukan dan tanggung jawab manusia, semakin berat pula cobaan yang diterimanya. Dalam hubungan ini Rasulullah saw bersabda:

“Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada Rasulullah, “Siapa orang yang paling berat cobaannya, Rasulullah menjawab, Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, orang-orang yang mirip para nabi, kemudian orang-orang yang mirip mereka.” (Riwayat Ibnu Majah dari Sa’ad bin Abi Waqash)

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...