Sabtu, 13 Januari 2018

Mari Cintai Al-Qur'an : Hafal Al-Qur'an Mutqin dalam 55 Hari Metode (Neuro Linguistic Programming) Syaikh Dr. Yahya bin Abdurrazaq Al-Ghoutsani

HAFAL AL-QUR'AN
MUTQIN DALAM 55 HARI
(Neuro Linguistik Programming)
Syaikh Dr. Yahya bin Abdurrazaq Al-Ghoutsani


Dipublikasikan Muhammad Syafi'iSabtu, 2 Juni 2018

Salah satu pengertian NLP (Neuro Linguistic Programming) adalah penelitian mengenai apa yang menghantarkan seseorang dalam meraih kesuksesan.
        Kemudian rahasia itu direfleksikan kepada mereka yang belum meraih kesuksesan.

Judul      : Hafal Al-Qur'an Mutqin Dalam 55 Hari metode NLP
Penulis   : Syaikh Dr. Yahya bin Abdurrazaq Al-Ghoutsani
Penerbit  : Qur'ani Press
Harga Normal : Rp. 60.000,00
Diskon%           : Rp. 30.000,00

( Bagi yang berminat silahkan Contak Person saya, selama persediaan masih ada Ke nomor : HP/WA 085752265817)

Rabu, 10 Januari 2018

Book Review : Buku Filsafat Umum (Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra)




BOOK REVIEW FILSAFAT UMUM

Judul Buku   : Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra
Pengarang    :  Prof. Dr. Ahmad Tafsir
Terj               :  xxxxxx
Penerbit        : PT REMAJA ROSDAKARYA
Tahun           : 2009
Tebal            : 276 Halaman







Oleh Muhammad Syafi'i
A.    PENDAHULUAN
Filsafat memang tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Filsafat bahkan diibaratkan seperti ratu dan induk dari semua ilmu pengetahuan, ratu yang memahkotai semua ilmu dengan cirinya yang paling mendasar, yakni: bertanya. Namun dalam filsafat, pertanyaan tersebut datang dari berbagai macam sisi, khususnya dari sisi yang paling umum dan mendasar menyangkut hakikat, inti, serta pengertian paling mendasar.[1]
Poedjawijatna (1974:1) menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata Arab yang berhubungan rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata Yunaninya ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia; philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam.[2]
Buku Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Chapra ini merupakan buku cetakan ke tujuh belas, sebelumnya cetakan yang pertama diterbitkan pada tahun 1990.
Sekilas tentang buku ini mencakup kajian-kajian filsafat yang cukup lengkap didalamnya. Buku ini memiliki delapan bab yang dibahas pada masing-masing tema pembahasannya sendiri. Dengan adanya khulasah, ulasan, kesimpulan, dan ikhtisar di beberapa tiap akhir pada bagian babnya serta di muat juga dengan kutipan-kutipan, daftar pustaka dan indeks, membuat mudah dalam memahami isi pada tiap bahasannya. Selain itu nampak dari cover buku ini memiliki corak abstrak berwarna yang mana menarik perhatian untuk membaca dan mengkaji buku ini lebih dalam.
Selain itu, buku ini memiliki kecenderungan dengan kritik logis dari penulis yang Islami. Sehingga buku ini cocok ditujukan kepada pemula. Artinya, kepada siapa saja yang baru belajar filsafat dan ingin tahu tentang filsafat secara umum, khususnya untuk mahasiswa perguruan tinggi yang memang di tuntut dan harus mempelajari atau mengkaji buku ini, karna buku ini merupakan pengantar kepada filsafat yang harus dipelajari terlebih dahulu sebelum mempelajari buku-buku filsafat yang lainnya.
Sebagai penguat buku ini menerapkan lebih jauh cabang-cabang filsafat yang pernah mendunia antara lain di mulai sejak filsafat Yunani sampai filsafat pascamodern, tentunya hal itu mempunyai nilai tersendiri.
Dari setiap keunikan dan kelebihan sebuah buku, tentunya setelah saya membaca buku ini saya memiliki tanggapan tersendiri terhadap materi-materi yang ada di dalam buku ini. Apa yang menjadi tanggapan saya, itulah yang telah saya pahami dari hasil bacaan saya. Buku ini mampu menggambarkan filsafat supaya lebih mudah untuk dipahami pembaca, penulis buku ini membuat suatu karya yang praktis pengantar tentang filsafat.
B.     ISI BUKU
Bab I merupakan sebuah pendahuluan yang menjelaskan mengenai sistem yang hendak diajukan dalam buku ini ialah: manusia ideal ialah manusia yang utuh, yaitu manusia yang menggunakan indera, akal, dan hatinya secara seimbang, manusia yang jalan hidupnya ditentukan oleh pertimbangan indera, akal, dan hatinya secara seimbang, sekaligus, dan menyeluruh. Di dalam sistem ini dijelaskan bahwa antara indera, akal dan hati tidaklah terdapat persengketaan; mereka masing-masing mempunyai daerah, paradigma, metode, ukuran sendiri-sendiri; mereka saling melengkapi.
Karena buku ini disediakan untuk pelajar tingkat pemula maka uraian tentang apa filsafat itu perlu diberikan lebih dulu (Bab II).
Bab II merupakan sebuah pengantar, pada bagian ini diperkenalkan lebih dulu apa filsafat itu, apa yang mendorong timbulnya filsafat, macam pengetahuan manusia, faidah mempelajari filsafat, cara mempelajari filsafat, objek penelitian filsafat, metode penelitian filsafat, dan terakhir struktur filsafat serta beberapa isme dalam filsafat. Semua topik itu juga bertujuan memperkenalkan apa filsafat itu sesungguhnya.
Penulis buku ini Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan di dalam bukunya bahwa mula-mula filsafat diartikan sebagai the love of wisdom atau love for wisdom. Pada fase ini filsafat berarti sifat seseorang yang berusaha menjadi orang yang bijak atau sifat orang yang ingin atau cinta pada kebijakan. Pada fase ini filsafat juga berarti sebagai kerja seseorang yang berusaha menjadi orang yang bijak. Jadi, yang pertama filsafat sebagai sifat, dan yang kedua filsafat sebagai kerja. Sekedar catatan, Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer  memberikan penjelasan mengenai seseorang yang berfilsafat dapat diumpakan seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seseorang yang berdiri di puncak tinggi memandang arah dan lembah di bawahnya.[3]
Mengenai hal-hal yang mendorong timbulnya filsafat Prof. Dr. Ahmad Tafsir menyatakan, bahwa keingintahuanlah pada dasarnya penyebab timbulnya filsafat. Ingin tahu ini dahulunya disebabkan oleh  dongeng dan keheranan pada kebesaran alam; pada zaman modern ingin tahu timbul karena sangsi, lantas ingin kepastian. Ingin tahu dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan menimbulkan filsafat.
Prof. Dr. Ahmad Tafsir membagi macam-macam pengetahun manusia menjadi tiga, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan sains ialah pengetahuan yang logis dan didukung oleh bukti yang empiris. Namun, pada dasarnya pengetahuan sains tetaplah suatu pengetahuan yang berdasarkan bukti nyata. Adapun pengetahuan filsafat ialah sejenis pengetahuan yang diperoleh dengan cara berpikir logis tentang objek yang abstrak logis. Sedangkan pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang ukuran kebenarannya ditentukan oleh rasa, yakin, kadang-kadang empiris.
Menurut beliau sekurang-kurangnya ada empat faidah mempelajari filsafat: agar terlatih belajar serius, agar mampu mempelajari filsafat, agar mungkin menjadi filosof, dan agar menjadi warga negra yang baik. Dan ada tiga metode mempelajari filsafat: sistematis, historis dan kritis.
Beliau juga membagi objek penelitian filsafat, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah objek yang diselidiki filsafat. Objek materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. Sedangkan objek forma adalah penyelidikan yang mendalam. Artinya, ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagian dalamnya. Kata mendalam artinyaingin tahu tentang objek yang tidak empiris.
Selain itu Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan mengenai sistematika filsafat yang mempunyai tiga cabang besar yang meliputi epistemologi, ontologi dan aksiologi. Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelari soal tentang watak, batas-batas, dan berlakunya ilmu pengetahuan.[4] Ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M.[5] Sedangkan aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang membahas masalah nilai, sehingga aksiologi diartikan sebagai filsafat nilai.[6]
Pada bab III buku ini membahas mengenai akal dan hati pada zaman Yunani Kuno, ciri-ciri umum filsafat Yunani adalah rasionalisme. Rasionalisme mencapai puncaknya pada orang-orang sofis. Untuk melihat rasionalisme sofis perlu memahami lebih dahulu latar belakangnya. Latar belakang itu terletak pada pemikiran filsafat yang ada sebelumnya, yaitu pemikiran-pemikran Thales, Anaximander, Heraclitus, Paramanides, Protagoras, Gorgias, Socrates, Plato dan Aristoteles.
Pada bab IV buku ini membahas mengenai akal dan hati pada abad pertengahan yang dipengaruhi oleh beberapa tokoh, yang pertama  Plotinus (204-270) ajaran Plotinus atau Ployinisme erat kaitannya dengan ajaran Plato, yakni menganut realitas idea, kedua Augustinus (354-430) alih-alih akal dan pemikiran kritis diambilnya keimanan, alih-alih manusia dan kemampuannya diambil kedaulatan Tuhan. Intelektualisme tidak penting dalam sistemnya, yang penting ialah cinta kepada Tuhan (Mayer, 357) ketiga Anselmus (1033-1109) ia mendahulukan iman daripada akal. Ia mengatakan bahwa wahyu harus diterima lebih dulu sebelum kita mulai berpikir dan yang ke empat adalah Thomas Aquinas (1225-1274) pandangannya tentang pengetahuan dipengaruhi oleh keyakinan bahwa Tuhan adalah awal dan akhir segala kebijakan.
Pada bab V Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan mengenai akal dan hati pada zaman modern. Pada bab ini beliau menyatakan bahwa banyak oang yang jengkel oleh dominasi gereja. Rene decrates jelas bertujuan untuk melepaskan filsafat dari kekangan gereja, terlihat dari argumen cogito yang terkenal. Setelah itu banyak bermunculan filsof-filsof yang lain. Akal yang dikekang selama kira-kira 1500 tahun itu sekarang berpesta pora merayakan kebebasannya. Adapun periode-periodenya meliputi periode renaissance, rasionalisme, idealisme objektif, idealisme theist, empirisme, pragmatisme dan eksistensialisme.
Selanjutnya pada bab VI membahas mengenai akal dan hati di jalur timur. Beliau menjelaskan di jalur timur, yaitu dunia  Islam. Mengenai sifat dominasi, akal di timur dihargai, tetapi tidak sampai mendominasi jalan hidup sehingga orang Islam meninggalkan agama, lalu mengambil materialisme danateisme. Filsafat Yunani banyak mempengaruhi perkembangan filsafat dan sains dalam Islam. Filsafat Yunani mulai berkembang mulai sejakkurang lebih tahun 600 SM. Islam lahir pada tahun 600-an. Filsafat dalam Islam berkembang secara intensif sejak tahun 800-an.
Pada bab VII membahas mengenai keseimbangan indera, akal dan hati. Beliau menjelaskan kemantapan hidup hanya ditetentukan oleh dua hal, yaitu kaidah sains dan filsafat di satu pihak dan akidah agama dipihak lain. Keduanya telah diragukan pada masa sofisme. Tentu saja kehidupan menjadi kacau karena sistem nilai telah kacau. Pada abad pertengahan, terutama sejak tahun 200-an, akal kalah total dan iman menang mutlak. Keadan ini seharusnya telah dapat diperhitungkan sebelum terjadi.
Terakhir pada bab VIII Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan mengenai keseimbanga akal dan hati pada zaman pascamodern. Bahwa, kritik filsafat pascamoden terhadap filsafat modeern terungkap dalam istilah dekontruksi seperti yang digunakan para tokoh filsafat pasca modern. Yang di dekonstruksi tentu saja rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat. Beberapa tokoh dalam filsafat pascamodern  yaitu Arkoun, Derrida, Foucault dan Wittgenstein.
C.    PEMBAHASAN
Prof. Dr. Ahmad Tafsir, penulis buku ini mampu menggambarkan filsafat supaya lebih mudah untuk dipahami pembaca, beliau membuat karyanya membuat suatu karya yang praktis pengantar filsafat yang membuat pembaca mengerti sedikit tentang filsafat, beliau juga banyak memberikan contoh-contoh yang mudah dicerna dan di pahami maksudnya. Buku filsafat umum ini mencoba meringkas beberapa pemikiran tokoh filsafat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami, hal itu menjadi suatu kelebihan dari buku ini. Dengan adanya khulasah, ulasan, kesimpulan, dan ikhtisar di beberapa tiap akhir pada bagian babnya serta di muat juga dengan kutipan-kutipan, daftar pustaka dan indeks, membuat mudah dalam memahami isi pada tiap bahasannya.
Selain itu, buku ini juga mempunyai isi yang terstruktur dengan baik. Penulis mulai berbicara dengan hal-hal yang sederhana dan mendasar seperti yang ditemukan pada bab I yang dimulai dengan pendahuluan,  pada bab II tentang apa itu filsafat, bab III dan seterusnya sudah mulai masuk ke pembahasan, mulai dari filsafat Yunani, filsafat abad pertengahan, filsafat abad modern, pemikiran filsafat di timur, hingga filsafat pascamodern. Setidaknya kepingan informasi berhasil disusun penulis sebagaia bekal untuk memahami apa yang dibicarakan pada bab berikutnya. Struktur isi buku ini terbangun dengan baik dan alur buku ini terbagun dengan baik pula, membuat pembaca tidak cepat jenuh dalam membalik setiap lembarannya.
Dilihat dari desain sampulnya nampak dari cover buku ini memiliki corak abstrak berwarna yang mana menarik perhatian untuk membaca dan megkaji buku ini lebih dalam. Pemilihan warna biru yang mendominasi cover buku ini dan dengan desain yang mengaplikasikan gambar seseorang yang sedang berpikir, tentu erat kaitannya dengan filsafat itu sendiri dan memiliki makna yang sangat dalam.
            Namun meski buku ini merupakan buku pengantar filsafat yang praktis, tetap saja bagi orang awam masih kesulitan untuk memahami filsafat.
D.    PENUTUP
Secara keseluruhan buku ini sangat cocok dan layak untuk bahan bacaan dan daftar rujukan untuk mahasiswa. Selain itu, untuk semua kalangan umum yang ingin tahu atau sekedar tahu mengenai apa itu filsafat. Buku ini menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang mungkin belum terjawab mengenai tentang apa filsafat itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Keraf, A. Sonny, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Chapra, Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2009.

Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1984.

Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2001.

Bahtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Izah Ulya Qadam, “Kualitas Pendidikan Berbasis Filsafat Ilmu”. Jurnal Penelitian. Vol. 9, No. 2, Agustus, 2015.



[1]A. Sonny Keraf  - Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 1.
[2]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Chapra,  (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2009), hlm. 9.
[3]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Sinar Harapan, 1984), hlm. 20.
[4]Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2001), hlm. 137.
[5]Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 134.
[6]Izah Ulya Qadam, “Kualitas Pendidikan Berbasis Filsafat Ilmu”. Jurnal Penelitian. Vol. 9, No. 2, Agustus 2015, hlm. 339.

Haruskah akal dan wahyu selalu dipertentangkan?

Haruskah Akal dan Wahyu Selalu di Pertentangkan?

Oleh Muhammad Syafi'i




Persoalan akal dan wahyu serta hubungan antar kedunya, sudah lama menjadi bahan diskusi dalam gelanggang sejarah umat manusia. Diskusi mengenai hal ini berlangsung, terutama di kalangan ahli-ahli pikir yang percaya kepada agama, di samping itu mereka juga percaya kepada kemampuan dan kekuatan akal. Di dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, ternyata persoalan akal dan wahyu menjadi bahan diskusi yang serius di kalangan para pakar Islam, terutama di kalangan filosof muslim dan kaum mutakallimin (Muhammad Nazir Karim, 2004). 
 Tentunya, persoalan akal dan wahyu tidak akan pernah habis di bahas. Akal  yang menjadi daya pikir seseorang dalam mencari kebenaran yang rasionalitas atau sesuai dengan kenyataan, tentu erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan, sebab ilmu pengetahuan akan berkembang jika seseorang menggunakan akalnya dengan baik dan benar. Adapun wahyu, merupakan petunjuk bagi umat manusia dan seluruh alam semesta yang di sampaikan Tuhan kepada seorang Nabi pilihan melalui perantara Malaikat-Nya. Wahyu sebagai petunjuk atau pembeda antara yang hak dan yang bathil, tidak akan terlepas dari peranan akal, karena akal memiliki kedudukan yang tinggi setelah wahyu, manusia yang berakal sejatinya akan menggunakan akalnya sesuai dengan peranan wahyu tersebut dan tidak akan melanggar ketentuan-ketentuan pokok yang telah termaktub di dalam wahyu tersebut.
Sesuai dengan ketentuan tersebut, baik akal dan wahyu sama-sama memiliki kedudukan yang sangat penting dan saling melengkapi, oleh karena itu kita sebagai manusia dituntut untuk menggunakan akal dalam mencari ilmu pengetahuan tanpa mengenyampingkan wahyu, begitupun sebaliknya. Sebab, wahyu merupakan penopang utama akal dalam rangka mencari kebenaran, karena akal tanpa wahyu tidak akan bisa berdiri sendiri dan wahyu tanpa akal tidak akan bisa dipahmi. Sebab, wahyu bisa dipahami melalui akal. Persoalannya, haruskah akal dan wahyu selalu dipertentangkan? Ada beberapa alasan pokok mengapa akal dan wahyu tidak harus dipertentangan.
Pertama,  jelas bahwa akal dan wahyu tidak harus selalu dipertentangkaan. Karena menurut saya yang dipertentangkan bukan soal akal dan wahyu tersebut, akan tetapi, seseorang yang menggunakan akal dan wahyu itulah yang bisa menimbulkan pertentangan dan akan menimbulkan persoalan-persoalan baru di dalam teologi Islam, karena seseorang yang memberikan peranan yang besar pada akal, corak teologinya bisa bersifat liberal, sedangkan seseorang yang memberikan penekanan dan lebih banyak mengandalkan wahyu, corak teologinya bisa bersifat tradisional, oleh sebab itulah akal dan wahyu menjadi bahan diskusi yang serius di kalangan para teologi Islam, sehingga para teologi Islam atau ahli-ahli pikir Islam tidak akan jauh dari persoalan itu. Sebab, para teologi Islam atau ahli-ahli pikir Islam dituntut harus memecahkan pertentangan-pertentangan tersebut, disisi lain harus menghadapi pertentangan yang ditimbulkan oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah, baik dari faktor internal maupun eksternal, meskipun harus berhati-hati dan tidak boleh serampangan dalam menghadapinya. Karena antara akal dan wahyu sama-sama memiliki kedudukan yang tinggi dan sangat dimuliakan, disamping itu saling melengkapi. 
 Analisis mengenai hal tersebut, bahwa yang menjadi kecenderungan disini ialah seseorang yang menggunakan akal dan wahyu itulah yang bisa menimbulkan pertentangan dan persoalan-persoalan baru di dalam teologi Islam sehingga menghasilkan corak teologi yang bersifat liberal maupun tradisional dan kecenderungan itu akan membawa dampak yang sangat signifikan dari waktu kewaktu, hal ini bisa dirasakan dampaknya meskipun secara tidak langsung karena sangat besar pengaruhnya.  
 Sekedar catatan, dilihat melalui perspektif Harun Nasution yang dikutip oleh Prof. Dr. H. Ris’an Rusli, M.Ag di dalam buku beliau yang berjudul Teologi Islam: Telaah Sejarah dan pemikiran Tokoh-tokohnya. Bahwa, akal dan wahyu sebenarnya tidak dipertentangkan dalam sejarah pemikiran Islam, baik oleh kaum Mu’tazilah maupun oleh kaum filsuf Islam lainnya. Adapun yang dipertentangkan adalah penafsiran tertentu dari teks wahyu dengan penafsiran lain dari teks wahyu itu juga. Jadi, yang bertentangan sebenarnya dalam Islam adalah pendapat akal ulama tertentu dengan pendapat akal ulama lainnya tentang penafsiran wahyu, dengan kata lain, ijtihad ulama dengan ijtihad ulama lain (Ris’an Rusli, 2015).
Kedua, sebagaimana telah diketahui bahwa persoalan-persoalan akal dan wahyu di dalam masalah keagamaan, sebenarnya telah dilakukan oleh pemikir-pemikir teologi Islam sebelumnya. Dalam hal ini yang dipermasalahkan yakni, mengenai cara mengetahui Tuhan, mengetahui kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya, mengetahuai segala larangan-larangan-Nya dan yang semacamnya. Melalui pendapat akalnya mereka melakukan penafsiran-penafsiran tentang wahyu, penafsiran-penafsiran tentang wahyu yang menjadi persoalan atau polemik di para kalangan aliran-aliran teologi Islam itulah yang menjadi pertentangan, karena pola penafsiran atau ijtihadnya yang berbeda antara aliran yang satu dengan aliran yang lain. Sehingga menimbulkan corak teologi yang berbeda karena perbedaan penafsiran melalui pendapat akalnya tentang wahyu tersebut, bahkan aliran teologi terpecah-pecah ke dalam sekte-sekte tertentu dan ada pula yang bertikai antara aliran yang satu dengan aliran yang lainnya. 
 Kenyataannya, antara akal dan wahyu menjadi diskusi serius dikalangan para pakar Islam. Karena pola penafsiran mereka yang berbeda-beda dan cendrung tekstual. Perbedaan-perbedaan penafsiran tersebut bisa dikarenakan kepentingan-kepentingan mereka, contohnya seperti karena faktor politik, kepentingan pribadi, bahkan atas kepentingan kelompok  dan lain sebagainya.
Setelah mengkaji hal tersebut, bahwa kemampuan akal dalam menafsirkan wahyu sangat terbatas, karena Tuhan menciptakan akal tidak sesempurna wahyu. Karena keterbatasannya itulah penafsiran akal terhadap wahyu berbeda-beda dan sangat beragam, oleh karena itu kita tidak boleh hanya terpaku dengan satu penafsiran saja, akan tetapi kita dituntut untuk mengetahui atau mempelajari semua penafsiran dan dari situlah kita akan mendapatkan pengetahuan yang jauh lebih dalam dan dapat mengetahui perbedaan-perbedaannya dan mengerti akan istinbath hukum yang digali melalui ijtihadnya. Maka dari itu penafsiran akal terhadap wahyu bisa menimbulkan persoalan di para kalangan teologi Islam karena ijtihad yang satu dengan yang lain tentu berbeda. Namun, paparan tersebut perlu kita kaji lagi, karena keterbatasan pengetahuan, baik mengenai akal maupun wahyu yang tentunya masih banyak menyimpan pengetahuan yang belum tergali.
Sebagai kesimpulan, bahwa yang menjadi pertentangan bukan soal akal dan wahyu, akan tetapi, seseorang yang menggunakan akal dan wahyu itulah yang bisa menimbulkan pertentangan dan akan menimbulkan persoalan-persoalan baru di dalam teologi Islam, karena seseorang yang memberikan peranan yang besar pada akal, corak teologinya bisa bersifat liberal, sedangkan seseorang yang memberikan penekanan dan lebih banyak mengandalkan wahyu, corak teologinya bisa bersifat tradisional. Dalam hal ini yang dipermasalhkan yakni, mengenai cara mengetahui Tuhan, mengetahui kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya, mengetahu segala larangan-larangan-Nya dan yang semacamnya. Melalui pendapat akalnya mereka melakukan penafsiran tentang wahyu, penafsiran-penafsiran tentang wahyu yang menjadi persoalan atau polemik di para kalangan aliran-aliran teologi Islam itulah yang menjadi pertentangan.

Referensi
Nazir Karim, Muhammad, Dialektika Teologi Islam: Analisis Pemikiran Kalam Syeikh Abdurrahman Shiddiq Al-Banjari, Penerbit Nuansa, Bandung, 2004.

Rusli, Ris’an, Teologi Islam: Telaah Sejarah dan Pemikiran Tokoh-Tokohnya, Prenadamedia Group, Jakarta, 2015.

Sabtu, 06 Januari 2018

Based On The Story Experience


Oleh Muhammad Syafi'i
FENOMENA KIDS ZAMAN NOW
S
imak hadist ini “Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya empat perkara: usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, serta ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya.” (HR. Al-Bazzar dan At-Thabrani).
Berkaca dari hadits di atas betapa pentingnya usia di masa muda, harta dari mana dan untuk siapa kita keluarkan? serta ilmu dan apa-apa yang kita perbuat dengannya. Namun sungguh miris di zaman sekarang berbeda dengan waktu dahulu. Dari waktu ke waktu keadaan begitu jauh berbeda, perbedaan itu begitu mudah kita temui mulai dari kota bahkan desa yang jauh sekalipun dari pusat kota, kota yang dulunya menjadi contoh perkembangan di desa sekarang malah menjadi contoh yang kurang baik, baik yang muda mau pun yang tua ”ah masa bodoh” kira-kira begitu, tanpa memandang dia anak siapa dari mana asalnya yang penting hidup! tanpa menghiraukan nasib orang lain. Padahal sejatinya kotalah yang menjadi pusat peradaban, namun kenyataan berkata lain malah sebaliknya.
Sangat miris! bahkan di desa mulai terjangkit penyakit zaman sekarang yang di istilahkan dengan fenomena “Kids Zaman Now” dimana anak-anak muda sudah terinfeksi penyakit yang menular bahkan lebih menular dari virus yang berbahaya sekalipun, yakni penyakit kekinian yang di akibatkan kurangnya pengetahuan dalam beragama, akhirnya mudah terpengaruh dunia luar yang gampang masuk dan meracuni akal serta pikiran anak muda yang dapat menjerumuskan kelembah kemaksiatan. Melihat hal itu, betapa perihnya hati ini terasa tersayat sembilu yang begitu tajam dan mematikan. Astagfirullah...
Mau dibawa kemana bangsa ini, apakah kita tidak malu sebagai pemuda yang akan meneruskan perjuang bangsa tapi malah kita sebagai pemuda regenerasi dari pendahulu kita yang sudah mulai tua  renta, yakni orang tua kita dan kita malah mempermalukan mereka dengan perbuatan kita yang membawa kehancuran dan malapetaka yang akan menimbulkan duka dan deraian air mata keduanya. Sungguh semua itu tidak bisa diterima dengan akal dan naluri kita sebagai makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dengan jiwa dan raga yang sempurna.
Wahai pemuda mari kita kembali ke jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT. Contohlah pemuda yang pernah hidup di zaman Rasulullah, beliau menjadi teladan bagi para pemuda Islam, siapakah beliau? yaitu Mush’ab bin Umair dilahirkan di masa jahiliyah, empat belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun 571 M (Mubarakfuri, 2007:54), sehingga Mush’ab bin Umair dilahirkan pada tahun 585 M.
Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekkah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.” (al-Jabiri, 2014:19). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekkah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya dan palimg banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).
Meskipun ibunya sangat memanjakannya, namun tak lantas membuat beliau berbangga diri dengan semua kenikmatan yang membuatnya tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat. Justru beliau jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat. Inilah ciri pemuda Islam yang mutamaddin, beliau tidak mementingkan urusan dunia semata, akan tetapi mencari dunia untuk kehidupan akhirat yang lebih kekal dan abadi. Karna sejatinya dunia adalah sebuah permainan yang menipu dan apabila kita tidak berhati-hati, maka tunggulah kehancurannya. Ingat! kita hidup di dunia hanyalah sementara, ibaratkan seorang musafir yang singgah disuatu tempat untuk menghilangkan penat dan dahaga, serta melanjutkan kembali perjalanannya, apabila tujuannya baik maka baiklah tujuannya dan apabila tidak, maka sebaliknya.
Oleh sebab itu, maka disini peran keluarga dan lingkungannya yang bisa mengubah karasteristik pemuda. Mengingat pentingnya peran keluarga ini, maka tidak aneh kalau salah satu dari maqoshidus syari’ah (tujuan syariat) adalah sebagai upaya hifdzun nasl (menjaga keturunan), terutama menjaga ikatan keluaraga. Disitu silaturrahmi, belajar bersama serta kerjasama  bisa dilakukan dalam membentuk masa depan bersama (Said Aqil Siroj, 2015:32). Begitupun dengan lingkungan, karena lingkungan juga merupakan tonggak perubahan karasteristik seorang pemuda, pemuda yang gagal dalam bersosialisasi dengan lingkungannya,  maka akan terintimidasi jiwa dan pikirannya. Kita sering tidak sadar bahwa seseorang disekeliling kita mempunyai pengaruh yang sangat besar, kadang kita memperingatkan adik-adik kita atau teman kita untuk tidak salah pergaulan, tetapi jangan lupa bahwa memilih teman bergaul menjadi kunci penting kesuksesan hidup kita.
Fenomena di atas merupakan fenomena yang sering kita temui, baik di lingkungan kita maupun lingkungan yang lainnya. Memang saya sendiri sebagai seorang pemuda harus selalu berhati-hati di dalam menyikapi itu semua, walaupun saya seorang pemuda desa yang hijrah ke kota, demi cita-cita dan untuk kebahagiaan kedua orang tua saya, lantas! hati saya bergeming semoga semua itu tidak terjadi dengan saya. “Ya Allah, jauhkanlah hamba-Mu ini dari semua hal yang dapat membuat hamba terlena dengan manisnya dunia yang hanya sekejap dan melalaikan semata”. Kelak kita semua akan kembali ketempat semula yang di penuhi dengan binatang pengrusak jiwa dan tersisalah kita menjadi sebujur bangkai yang tak berguna bagai tenggelam di laut derita dan amal shaleh sebagai penyelamatnya. Wallahu a’alam bish-shawab.

BIODATA PENULIS
(Kompetisi Literasi : Create Your Dream, Write to Inspire)
Nama            : Muhammad Sapi’i
Status            : Mahasiswa
Pekerjaan      : Belum bekerja
Alamat        : Jl. Samuda-Ujung Pandaran, Ds. Handil Sohor, Kec. Mentaya Hilir Selatan, Kab. Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah
Kontak/WA   : 085752265817
Media Sosial : Instagram @syafiee_ahmed
Email            : muhammad17sapi.i@gmail.com

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...