Jumat, 17 Juli 2020

“Spiritualitas Agamis di Tengah Pandemi” Sekejap Lebih Dekat dengan-Nya.



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 

Alhamdulillah, pada minggu ini, saya dipercayakan untuk mengisi pengajian Manaqib Syekh Abdul Qadir  Al-Jaelani yang diselenggarakan oleh segenap santri Pondok Dzikir Miftahus Sudur Palangka Raya disetiap bulannya. Karena masih dalam tahap transisi atau pemulihan dari wabah pandemi covid-19 maka pengajian tersebut tidak diselenggarakan ditempat yang seperti biasanya, hal tersebut untuk mencegah dari berkerumunnya para jama’ah. Namun, pengajian tetap dilaksanakan tetapi dibatasi hanya untuk para santri Pondok Dzikir Miftahus Sudur Palangka Raya. Agar masyarakat tetap bisa mendengarkan seputar thausyiah pada pengajian tersebut, maka kami syiarkan melalui media sosial. Mengingat spiritualitas kita harus tetap ditingkatkan, maka silaturahim bisa melalui media sosial.

            Mengapa pengajian tersebut sangat penting? Karena dalam meningkatkan wawasan dan relegiusitas masyarakat ditengah wabah covid-19 kajian-kajian seputar keagamaan sangat penting kita galakkan. Hal tersebut sebagai sarana menenangkan jiwa dan pikiran ditengah cobaan atau ujian seperti saat ini. Sebab dengan dekatnya kita kepada Sang pencipta hidup tidak akan resah dan gelisah, tetap tenang dan selalu berprasangka baik. Bukankah Dia selalu dekat dengan kita? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ (١٦)

Terjemah: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q.S Qaf [50]: 16)

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa Dia telah menciptakan manusia dan berkuasa penuh untuk menghidupkannya kembali pada hari Kiamat dan Ia tahu pula apa yang dibisikkan oleh hatinya, baik kebaikan maupun kejahatan. Bisikan hati ini (dalam bahasa Arab) dinamakan hadisun nafsi. Bisikan hati tidak dimintai pertanggungjawaban kecuali jika dikatakan atau dilakukan. Allah swt lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya sendiri. Ibnu Mardawaih telah meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Sa'id bahwa Nabi saw bersabda: Allah dekat kepada manusia (putra Adam) dalam empat keadaan; Ia lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Ia seolah-olah dinding antara manusia dengan hatinya. Ia memegang setiap binatang pada ubun-ubunnya, dan Ia bersama dengan manusia dimana saja ia berada. (Riwayat Ibnu Mardawaih)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...