Alhamdulillah, pada minggu
ini, saya dipercayakan untuk mengisi pengajian Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani yang diselenggarakan oleh segenap
santri Pondok Dzikir Miftahus Sudur Palangka Raya disetiap bulannya. Karena
masih dalam tahap transisi atau pemulihan dari wabah pandemi covid-19 maka
pengajian tersebut tidak diselenggarakan ditempat yang seperti biasanya, hal
tersebut untuk mencegah dari berkerumunnya para jama’ah. Namun, pengajian tetap
dilaksanakan tetapi dibatasi hanya untuk para santri Pondok Dzikir Miftahus
Sudur Palangka Raya. Agar masyarakat tetap bisa mendengarkan seputar thausyiah
pada pengajian tersebut, maka kami syiarkan melalui media sosial. Mengingat
spiritualitas kita harus tetap ditingkatkan, maka silaturahim bisa melalui
media sosial.
Mengapa pengajian tersebut sangat
penting? Karena dalam meningkatkan wawasan dan relegiusitas masyarakat ditengah
wabah covid-19 kajian-kajian seputar keagamaan sangat penting kita galakkan.
Hal tersebut sebagai sarana menenangkan jiwa dan pikiran ditengah cobaan atau
ujian seperti saat ini. Sebab dengan dekatnya kita kepada Sang pencipta hidup tidak
akan resah dan gelisah, tetap tenang dan selalu berprasangka baik. Bukankah Dia
selalu dekat dengan kita? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ
خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ
اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ (١٦)
Terjemah: “Dan
sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh
hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q.S Qaf [50]: 16)
Tafsir Kemenag: Allah
menjelaskan bahwa Dia telah menciptakan manusia dan berkuasa penuh untuk
menghidupkannya kembali pada hari Kiamat dan Ia tahu pula apa yang dibisikkan
oleh hatinya, baik kebaikan maupun kejahatan. Bisikan hati ini (dalam bahasa
Arab) dinamakan hadisun nafsi. Bisikan hati tidak dimintai pertanggungjawaban
kecuali jika dikatakan atau dilakukan. Allah swt lebih dekat kepada manusia
dari urat lehernya sendiri. Ibnu Mardawaih telah meriwayatkan sebuah hadis dari
Abu Sa'id bahwa Nabi saw bersabda: Allah dekat kepada manusia (putra Adam)
dalam empat keadaan; Ia lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Ia
seolah-olah dinding antara manusia dengan hatinya. Ia memegang setiap binatang
pada ubun-ubunnya, dan Ia bersama dengan manusia dimana saja ia berada.
(Riwayat Ibnu Mardawaih)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar