Jumat, 31 Juli 2020

“Panitia Ibadah Idul Adha 1441 H/ 2020 M Masjid Raya Darussalam Palangka Raya”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

Palangka Raya – Jum’at, 31 Juli 2020 pukul 05.30 WIB – selesai. Bertempat di Jl. G. Obos IX Komplek Islamic Centre Masjid Raya Darussalam Palangka Raya telah dilaksanakannya program kegiatan KKN-DRSK dengan ditunjuknya kami sebagai Panitia Ibadah Idul Adha 1441 H/2020 M. Kami selaku panitia mengucapkan mohon maaf lahir dan batin: Taqabbalallahu minna wa minkum shalih al-a’mal. Kullu ‘am wa nahnu ila Allah aqrab, kepada segenap elemen masyarakat yang telah melaksanakan Ibadah Idul Adha dan kami sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya atas ketertiban Ibu/Bapak dan Saudara/i sekalian sehingga pelaksanaannya berjalan dengan lancar dan khidmat, meskipun disaat kondisi pandemi covid-19 seperti saat ini.

Semoga kita semua selalu berada di dalam lindungan-Nya, sehat walafiat dan dilancarkan segala hajat atau urusannya dan semoga kita menjadi hamba-Nya yang benar-benar fitri sebagaimana bayi yang baru lahir.  Maka Allah memerintahkan kepada kita untuk beribadah sebagai bentuk rasa syukur dan taat kepadanya. Sebagaimana di dalam firman-Nya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ (٢)

Terjemah: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (Q.S Al-Kausar [108]: 2)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar mengerjakan salat dan menyembelih hewan kurban karena Allah semata, karena Dia sajalah yang mendidiknya dan melimpahkan karunia-Nya. Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).” (al-An'am/6: 162-163)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Ada dua bulan yang tidak akan dikurangi (pahalanya ketika dikerjakan pada bulan tersebut). Kedua bulan itu adalah bulan hari raya, yakni Ramadhan dan DZulhijjah.” (HR. Bukhari).

Itulah segenap keutamaan dan fadhilahnya, yang sangat tinggi dan utama dari bulan-bulan yang lain. Maka kita dianjurkan untuk beribadah dengan maksimal dan sebaik mungkin. Karena dibalik sebuah peristiwa pasti ada hikmah dan pelajaran bagi orang-orang yang selalu memikirkan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Kamis, 30 Juli 2020

“Makanan untuk Hewan Qurban” Berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis.



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

Palangka Raya – Kamis 30 Juli 2020 pukul 12.30 WIB – selesai. Bertempat di Jl. G. Obos IX dan XII Palangka Raya telah dilaksanakannya program kegiatan KKN-DRSK mencari makan untuk hewan qurban dan sekaligus memberinya makan. Alhamdulillah, pada tahun ini kami segenap santri dan pembina Pondok Dzikir Miftaus Sudur Palangka Raya mendapatkan berupa hewan qurban. Jadi, hewan qurban tersebut nanti setelah disembelih akan kami distribusikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Hal tersebut didasarkan pada firman-Nya:

وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ  كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ (٣٦)

Terjemah: “Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.” (Q.S Al-Hajj [22]: 36)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa dia menciptakan unta agar diambil manfaatnya oleh manusia dan menjadikan unta itu sebagai salah satu syi’ar-syi’ar Allah dengan menyembelihnya sebagai binatang kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berkurban pahala yang berlipat ganda di akhirat.

Menurut Imam Abu Hanifah yang berasal dari pendapat Atha’ dan Sa’id bin Musayyab dari golongan tabi'in bahwa yang dimaksud dengan, “Budna” yang tersebut dalam ayat, ialah unta atau sapi. Pendapat ini dikuatkan pula oleh pendapat Ibnu Umar bahwa tidak dikenal arti “badanah” (mufrad budna) selain arti unta dan sapi. Seekor unta atau lembu dapat dijadikan kurban oleh tujuh orang berdasarkan hadis Rasulullah saw: Berkata Jabir ra, “Kami menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah saw, maka kami berkurban seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.” (Riwayat Muslim)

Jika seseorang tidak mendapatkan unta/sapi, ia boleh menggantinya dengan tujuh ekor kambing berdasarkan hadis: “Dari Ibnu ‘Abbas ra bahwa Nabi saw telah didatangi seseorang, ia berkata, “Sesungguhnya telah wajib atasku menyembelih unta/sapi, sedangkan aku orang yang sanggup melakukannya, tetapi aku tidak mendapatkannya untuk kubeli. Maka Rasulullah saw menyuruhnya membeli tujuh ekor kambing, kemudian ia menyembelihnya.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih)

Allah memerintahkan agar menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa haram hukumnya menyebut nama selain Allah diwaktu menyembelihnya. Apabila binatang kurban telah disembelih, telah roboh dan diyakini telah benar-benar mati, maka kulitilah, makanlah sebagian dagingnya, dan berikanlah sebagian yang lain kepada fakir miskin yang meminta dan yang tidak meminta karena mereka malu melakukannya. Tentu saja memberikan (daging) seluruhnya adalah lebih baik dan lebih besar pahalanya.

Orang-orang Arab jahiliyah tidak mau memakan daging kurban yang telah mereka sembelih, maka dalam ayat ini Allah membolehkan kaum Muslimin memakan daging kurban mereka. Demikianlah Allah telah memudahkan penguasaan binatang kurban bagi orang-orang yang beriman, padahal binatang itu lebih kuat dari mereka. Yang demikian itu dapat dijadikan pelajaran agar manusia bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka.

Namun, sebelum disembelih tentu kami perlakukan dengan baik dengan cara mencarikan makan dan sekaligus memberinya makan. Karena kita dianjurkan dengan sebaik mungkin untuk memperlakukan hewan sebelum menyembelihnya dan pahala bagi orang berbuat baik  pada binatang sangatlah luar biasa.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasullulah, apakah kita mendapat pahala (apabila berbuat baik) pada binatang?” Beliau bersabda, “Pada setiap yang memiliki hati yang basah maka ada pahala.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rabu, 29 Juli 2020

“Shalat Idul Adha di Tengah Covid-19”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

    Menjelang pelaksanaan salat Idul Adha, umat Islam akan berbondong-bondong memersiapkan dirinya untuk menyambut hari yang suci dibulan mulia tersebut. Seluruh elemen masyarakat tentu akan merasakan dampk dan manfaatnya. Maka mengingat pandemi belum usai, maka kita dianjurkannuntuk tetap menjaga protokol kesehatan. Mengenai pelaksanaan shalat Idul Adha, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sebuah fatwa Nomor 36 Tahun 2020 tentang shalat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah Covid-19. Selengkapnya, berikut isi Fatwa MUI tersebut:

1. Shalat Idul Adha hukumnya sunnah muakkadah yang menjadi salah satu syiar keagamaan (syiar min sya'air al-Islam).

2. Pelaksanaan shalat Idul Adha saat wabah Covid-19 mengikuti ketentuan Fatwa MUI:

Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah Saat Wabah Pandemi Covid-19;

Nomor 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19;

Nomor 31 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sholat Jum’at dan Jamaah Untuk Mencegah Penularan Wabah Covid-19. Dst...

Sumber: Kompas.com

Selasa, 28 Juli 2020

“Kerja Bakti: Wujudkan Lingkungan Bersih” Berbasis Kearifan Lokal dengan Cara Pandang Al-Qur’an.



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

Palangka Raya –  Selasa, 28 Juli 2020 pukul 08.00 WIB – selesai. Bertempat di Jl. G. Obos XII/Jl. Mutiara III Palangka Raya di lingkungan sekitar tempat tinggal telah dilaksanakannya program kegiatan KKN-DRSK membersihkan selokan dan sampah serta rumput liar secara gotong-royong atau kerja bakti. Kegiatan tersebut sangat penting, mengingat kebersihan merupakan aspek dari kesehatan.

Pada masa pandemi covid-19 seperti saat ini, kita tiada henti-hentinya untuk menggalakkan mengenai betapa pentingnya hidup bersih. Karena salah satu cari untuk memutus mata rantai penyebarannya, yakni salah satu caranya dengan menjaga kebersihan. Menjaga kebersihan merupak anjuran dari agama, maka sudah sepantasnya kita saling menjaga kebersihan, terutama ditempat tinggal kita atau dilingkungan sekitar. Namun, jangan lupa ketika bepergian keluar rumah atau sesudah dari bepergian, selalu menjaga protokol kesehatan. Dasar menjaga kebersihan tersebut sebagaimana yang disebutkan di dalam ayatnya berikut: Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًاۗ  لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ (١٠٨)

Terjemah: “Janganlah engkau melaksanakan salat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Q.S At-Taubah [9]: 108)

Tafsir Kemenag: Karena adanya maksud-maksud jahat kaum munafik dengan mendirikan bangunan tersebut, maka Allah melarang Rasul-Nya selama-lamanya untuk salat di tempat itu, karena apabila Rasulullah salat di sana bersama mereka berarti beliau merestui mereka mendirikan bangunan itu.

Selanjutnya Allah menegaskan kepada Rasul-Nya, bahwa mesjid yang dibangun sejak semula atas dasar ketakwaan kepada Allah, adalah lebih baik untuk dijadikan tempat ibadah bersama kaumnya untuk mempersatukan kaum Muslimin semuanya dalam segala hal yang diridai-Nya, yaitu saling mengenal dan bersama-sama berbuat kebajikan dan ketakwaan.

Yang dimaksud dengan mesjid yang didirikan pertama kali atas dasar ketakwaan, yang disebutkan dalam ayat ini, adalah “mesjid Quba” atau “mesjid Nabi” yang ada di kota Medinah, sebab kedua mesjid itu yang dibangun oleh Nabi dan kaum Muslimin atas dasar ketakwaan.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah menerangkan alasan, mengapa mesjid tersebut lebih utama dari mesjid lainnya yang sengaja didirikan bukan atas dasar ketakwaan, karena di mesjid tersebut terdapat orang-orang yang suka membersihkan dirinya dari segala dosa. Artinya mereka meramaikan mesjid dengan mendirikan salat serta berzikir dan bertasbih kepada Allah. Dengan ibadah-ibadah tersebut, mereka ingin mensucikan diri dari segala dosa yang melekat pada diri mereka, sebagaimana orang-orang yang mangkir dari peperangan kemudian mereka menyadari kesalahan mereka, lalu berusaha mensucikan diri dari dosa tersebut dengan cara bertobat, bersedekah, dan memperbanyak amal saleh lainnya. Melakukan ibadah salat berarti mensucikan diri lahir dan batin karena untuk melakukan salat disyaratkan sucinya badan, pakaian dan tempat, serta hadirnya hati dan pikiran yang dihadapkan kepada Allah semata.

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah menyukai orang-orang yang sangat menjaga kebersihan jiwa dan jasmaninya, karena mereka menganggap bahwa kesempurnaan manusia terletak pada kesucian lahir batinnya. Oleh sebab itu, mereka sangat membenci kekotoran lahiriyah, seperti kotoran pada badan, pakaian dan tempat, maupun kotoran batin yang timbul karena perbuatan maksiat terus menerus, serta budi pekerti yang buruk, misalnya riya dalam beramal, ataupun kikir dalam menyumbangkan harta untuk memperoleh keridaan Allah. Kecintaan Allah pada orang-orang yang suka mensucikan diri, adalah salah satu dari sifat-sifat kesempurnaan-Nya, Dia suka kepada kebaikan, kesempurnaan, kesucian, dan kebenaran. Sebaliknya, Dia benci kepada sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat-sifat tersebut.


Senin, 27 Juli 2020

“Peran Muslim untuk Perdamaian Dunia di Masa Pandemi dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 

Palangka Raya – Senin 27 Juli 2020 pukul 08.00 – 12.00 AM (WITA). Telah terlaksana International Webinar yang diadakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo. Tema yang diangkat pada webinar ini “The Role of Muslim to World Peace in Al-Qur’an and Hadis Perspective” hemat penulis, ini merupakan tema yang memantik semangat perdamaian ditengah problematika yang sedang melanda dunia. Disinilah peran umat Islam dan dunia untuk saling komitmen dan turut andil memperjuangkan nilai-nilai perdamaian, meskipun ditengah krisisis ekonomi ditengah wabah pandemi covid-19. Karena hal tersebut merupakan hal yang menyangkut persatuan dan kesatuan antar bangsa.

Webinar kali ini, dipimpin oleh Husni Idrus, M.Ag selaku akademisi Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo. Webinar ini secara resmi dibuka oleh Dr. Lahaji Haedar, MA (Rektor Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo) dan sebagai narasumber Dr. Abdul Karim Miqdad (Universitas Gaza Palestina), Prof. Dr. Anton Athoillah, MA (Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung), Dr. Mustaqimah, MA (Chift of  IQT Departement IAIN SAG) dan Dr. Aden Rosadi, M.Ag (Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung)

Jika kita tarik alur sebuah perdamaian, tentu sejarah panjang atau sepak terjang perjalanannya tak lepas dari sosok yang menginspirasi dan meneladani umat ini. Rasulullah telah mewariskan itu semua, dalam tanda kutip “perdamaian” itu terbukti dari Piagam Madinah yag beliau gagas dan menjadi bukti tegaknya tombak kemaslahatan antar umat. Melalui piagam ini Rasulullah mencontohkan tentang kerukunan dan harmonisasi dalam berkehidupan. Sepatutnya kita mengejawantahkan hal tersebut di dalam berbangsa dan bernegara. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ (١٠٣)

Terjemah: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S Ali 'Imran) [3]: 103)

Tafsir Kemenag: Diingatkan hendaklah mereka berpegang teguh kepada Allah dan ajaran-Nya dan selalu mengingat nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Dahulu pada masa jahiliah mereka bermusuhan sehingga timbullah perang saudara beratus-ratus tahun lamanya, seperti perang antara kaum ‘Aus dan Khazraj. Maka Allah telah mempersatukan hati mereka dengan datangnya Nabi Muhammad saw dan mereka telah masuk ke dalam agama Islam dengan berbondong-bondong. Allah telah mencabut dari hati mereka sifat dengki dan memadamkan dari mereka api permusuhan sehingga jadilah mereka orang-orang yang bersaudara dan saling mencintai menuju kebahagiaan bersama.

Juga karena kemusyrikan, mereka berada di tepi jurang neraka, hanya terhalang oleh maut saja. Tetapi Allah telah menyelamatkan mereka. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya, agar kaum Muslimin mendapat petunjuk dan mensyukuri nikmat agar nikmat itu terpelihara.

Disebutkan di dalam sebuah hadits:

 عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ أَهْلَ قُبَاءَ اقْتَتَلُوْا حَتَّى تَرَامَوا بِالْحِجَارَةِ، فَأَخْبَرَ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ، فَقَالَ: اذهبُوا بنا نُصلِح بينهم

Terjemah: “Dari Sahal bin Sa’ad Radhiyallahu anhu bahwa penduduk Quba’ telah bertikai hingga saling lempar batu, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikabarkan tentang peristiwa itu, maka beliau bersabda: Mari kita pergi untuk mendamaikan mereka.” [HR. Bukhari]

Minggu, 26 Juli 2020

“Perbekalan Standar Untuk Adaptasi Kebiasaan Baru”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 

Jika harus beraktivitas di luar rumah, jangan ragu melangkah, sepanjang kita disipilin protokol kesehatan. Selalu #PakaiMasker #JagaJarak dan rutin #CuciTanganPakaiSabun adalah bentuk adaptasi kebiasaan baru. Dan kita perlu lengkapi diri dengan sejumlah “bekal” kekinian di masa pandemi, sebagaimana dalam infografis (lihat Covid.go.id, ist.) semuanya sebagai upaya untuk melindungi diri kita dari hal-hal yang mengganggu kesehatan, terutama dari pandemi virus corona atau covid-19.

Sayangilah keluarga dan kerabat kita, serta para kolega atau sahabat kita. Caranya dengan menjaga tubuh kita dari terjangkit virus corona, semisal dengan menggunakan masker, hand sanitizer, dan lain sebagainya, yang dapat menjaga kekebalan tubuh kita. Meskipun hal tersebut seperti sepele, jangan salah justru itulah awal dari sehatmu yang bahagia. Karena Islam melarang tindakan yang dapat membahayakan fisik atau badan, seperti tidak menjaga kesehatan tubuh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

 “Sungguh, badanmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, kita dilarang zalim terhadap diri sendiri, apalagi membahayakan orang lain. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ (١٩٥)

Terjemah: “Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S Al-Baqarah [2]: 195)

Tafsir Kemenag: Orang-orang mukmin diperintahkan membelanjakan harta kekayaannya untuk berjihad fi sabilillah dan dilarang menjatuhkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan karena kebakhilannya. Jika suatu kaum menghadapi peperangan sedangkan mereka kikir, tidak mau membiayai peperangan itu, maka perbuatannya itu berarti membinasakan diri mereka.

       Menghadapi jihad dengan tidak ada persiapan serta persediaan yang lengkap dan berjihad bersama-sama dengan orang-orang yang lemah iman dan kemauannya, niscaya akan membawa kepada kebinasaan. Dalam hal infaq fi sabilillah orang harus mempunyai niat yang baik, agar dengan demikian ia akan selalu memperoleh pertolongan Allah.

Sabtu, 25 Juli 2020

“Sayur Sehat: Kreativitas di Masa Pandemi Covid-19”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 

Palangka Raya – Sabtu, 25 Juli 2020 pukul 09.00 WIB – selesai.  Bertempat di Jl. G. Obos XII/Jl. Kenangan II No. 317 Pondok Dzikir Miftahus Sudur Palangka Raya telah dilaksanakannya program kegiatan KKN-DRSK membuat rak sayuran sebagai tempat untuk meletakkan sayuran yang ditanam di polybag. Sayuran tersebut di budidayakan sebagai stock dimasa pandemi, sebagai asupan untuk tubuh agar tetap fit dan sehat. Sayuran pun Allah sebutkan di dalam firman-Nya:

وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ (٢٨)

Terjemah: dan anggur dan sayur-sayuran, (Q.S ‘Abasa [80]: 28)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini dan selanjutnya Allah menyebutkan beberapa macam tumbuh-tumbuhan: pertama, Allah menumbuhkan di bumi biji-bijian seperti gandum, padi, dan lain-lainnya yang menjadi makanan pokok.

Kedua dan ketiga, Allah menumbuhkan pula buah anggur dan bermacam sayuran yang dapat dimakan secara langsung. Keempat dan kelima, buah zaitun dan pohon kurma. Keenam, kebun-kebun yang besar, tinggi, dan lebat buahnya. Tidak hanya buahnya yang dapat dimanfaatkan, tetapi pohonnya pun dapat dijadikan bahan bangunan dan alat-alat perumahan. Ketujuh, bermacam-macam buah-buahan yang lain, seperti buah pir, apel, mangga, dan sebagainya. Kedelapan, berbagai macam rumput-rumputan.

Air yang turun dari langit dan perannya dalam “menghidupkan tanah yang mati” secara jelas diuraikan pada Surah al-Furqan/25: 48-49. Apa kandungan dari air hujan sehingga dapat digunakan untuk tumbuhnya tumbuhan ada pada Surah Qaf/50: 9.

Sedangkan uraian bagaimana bumi “terbelah”, di samping ayat di atas, juga terdapat pada Surah Fussilat/41: 39, sebagaimana pada penggalannya: "Dan di antara ayat-ayat-Nya adalah engkau melihat bumi kering tandus maka apabila telah Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan mengembang."

Ayat tersebut menerangkan apa yang akan terjadi pada tanah yang kering apabila butiran hujan jatuh di atasnya. Ayat tersebut juga menjelaskan adanya tiga tahap bagaimana perkembangan tumbuhan sampai dengan menghasilkan buah.

Tingkat-tingkat perkembangan tumbuhan yang dijelaskan oleh ayat di atas adalah demikian:

Pertama: Bergeraknya tanah. Apa yang dimaksud dengan bergeraknya tanah adalah gerakan partikel tanah. Partikel ini terdiri dari lapisan-lapisan yang terdiri atas bahan silika dan alumina. Ketika air masuk ke lapisan-lapisan partikel, maka akan terjadi pembengkakan dari partikel-partikel pembentuk lumpur. Hal ini dapat dijelaskan demikian:

1. Muatan listrik elektrostatis yang ada di permukaan partikel (yang terjadi setelah kehadiran air) akan mengakibatkan terganggunya stabilitas. Partikel ini akan bergerak terus, sebelum ada stabilisator yang berupa partikel yang bermuatan listrik yang berlawanan. Di sini kita seharusnya bersyukur, tentang bagaimana Allah telah menciptakan semuanya dalam pasangan-pasangan, sehingga mendatangkan suasana yang stabil dan sentosa. Termasuk dalam hal ini adalah muatan listrik

2. Pergerakan partikel tanah juga disebabkan karena adanya tabrakan dengan partikel air. Pergerakan partikel air yang tidak teratur menyebabkan partikel tanah bergerak ke semua arah. Gerakan yang demikian ini ditemukan oleh seorang ahli tumbuhan bernama Robert Brown pada tahun 1828. Pergerakannya sangat tergantung pada kecepatan dan jumlah partikel air. Dengan demikian, pergerakan yang terjadi adalah interaksi langsung antara   partikel tanah dan partikel air.

Kedua: Mengembangnya tanah. Apa yang dimaksud dengan mengembangnya tanah adalah mengembangnya partikel tanah. Partikel tanah akan bertambah tebal. Dengan demikian, tanah akan mengembang, sejalan dengan mengembangnya partikel tanah. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa partikel tanah terdiri atas lapisan-lapisan yang berhubungan satu sama lain. Antara lapisan satu dan lainnya terdapat pori-pori. Ke dalam pori-pori inilah air dan ion-ion yang terlarut akan masuk. Dengan bentuk pori-pori yang sangat sempit dan adanya medan elektrostatis di permukaan lapisan, maka air seperti di taruh dalam botol, dan tidak mengalir ke luar. Dengan kata lain, air akan disimpan di pori-pori di setiap lapisan.

Ketiga: Tahap Perkecambahan. Tahap perkecambahan biji terjadi saat air sudah tersedia. Saat air sudah pada tahap cukup, maka embrio yang ada di dalam biji akan menjadi aktif dan menyerap matrial nutrisi yang sederhana (material nutrisi kompleks dipecah menjadi sederhana dengan bantuan enzim). Pada tahap ini, bakal akar tumbuh ke bawah, bergerak di antara partikel tanah untuk mencari kawasan yang memenuhi syarat dan memperoleh nutrisi yang diperlukannya. Kemudian bakal daun akan berkembang ke atas, menembus permukaan tanah, dan mengarahkan pada sumber sinar matahari.

Jadi, secara singkat, tahapan-tahapan di atas dapat dijelaskan demikian. Kata "bergerak" jelas mengindikasikan efek dari air terhadap partikel tanah. Efek ini dapat terjadi sebagai akibat adanya muatan listrik elektrostatis atau benturan langsung antara partikel-partikel air dan tanah. Sedangkan kata "membengkak" mengacu pada menebalnya partikel tanah karena terperangkapnya air di antara lapisan-lapisan pembentuk partikel tanah. Dengan demikian, partikel tanah berfungsi sebagai reservoar air, tempat menyimpan air. Ini sesuai dengan ayat berikut:

Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya. (al-Mu’minun/23: 18)

Kemudian bakal akar, dan disusul bakal daun, mulai tumbuh. Anak pohon akan muncul, terus tumbuh dan memberikan hasil untuk keperluan manusia. Apakah manusia masih tidak bersyukur?

Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (ar-Rum/30: 50)

Jumat, 24 Juli 2020

“Ayo Masuk! Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir – IAIN Palangka Raya”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 

Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IAT) adalah program studi yang fokus kepada kajian al-Qur’an dan tafsir dengan segala kompleksitasnya, dalam rangka menghasilkan alumni yang profesional dan mampu berkompetisi secara global. Secara historis, prodi ini dahulu bernama Jurusan Tafsir Hadis (TH), berdiri pada tanggal 27 Juli 1988 dengan SK yang ditandatangani oleh Menteri Agama RI (SK No. 122 tahun 1988).

Sejalan dengan visi untuk menjadikan F.U.A.D sebagai salah satu Fakultas unggulan pendidikan,Pengajaran dan Penelitian (Excellence future Education,teaching and research Faculty ) di IAIN Palangka Raya Kalimantan Tengah, maka pada tahun 2015 dibuka Program Studi ini dengan membawa misi untuk mempersiapkan generasi muda islam khususnya tenaga ahli dakwah islam yang ahli dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan memiliki jiwa Ikhlas, Intelektual dan Istiqomah.

Fokus Mata Kuliah unggulan yang diberikan dalam Program Studi ini meliputi: Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, Tahfidz dan Tahsin Al-Qur’an,  Tahfidz hadits, Ushulut Wa Qowaiduh, Tafsir Ayat Sains, Balaghah Al-Qur’an, Kajian Al-Quran dan Hadits berbasis Informasi teknologi, Metodologi Penelitian Tafsir/Hadis, Akhlak Tasawuf, Ilmu Mantiq, kajian Orientalisme atas Al-Qur’an, Filsafat , Bahtsul Kutub

Sumber: http://iqt.fuad.iain-palangkaraya.ac.id/

Kamis, 23 Juli 2020

Mudzakarah: Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an Karya Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 

Palangka Raya – Kamis, 23 Juli 2020 pukul 06.00 WIB – selesai. Bertempat di Area Pondok Pesantren Darul Amin Jl. G. Obos Jakut I, Kel. Menteng, Kec. Jekan Raya, Palangka Raya telah dilaksanakannya kegiatan program KKN-DRSK Pengajian Kitab Turats (klasik) bersama ustadz dan mahasiswa.

Adapun Kitab yang dikaji adalah: At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an Karya Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi: Al-Qur’an adalah mukjizat sepanjang zaman, yang dijadikan Allah sebagai tantangan bagi jin dan manusia yang meragukan kebenarannya serta bantahan bagi semua golongan yang menyimpang. Al-Qur’an ibarat musim semi yang menyebarkan kebahagiaan dan menyuburkan hati orang-orang yang memiliki keyakinan dan pengetahuan. Al-Qur’an tidak akan usang karena sering diulang dan tidak akan pudar karena zaman berputar.

Allah telah menjadikannya mudah sebagai pelajaran, sehingga balita pun bisa hafal Al-Qur’an. Allah telah menjamin keasliannya, sehingga akan senantiasa terjaga dari perubahan dan pembaharuan. la akan senantiasa terpelihara selama malam dan siang datang dan pergi secara bergantian. Allah telah memilih orang-orang yang memiliki kecerdasan dan ketekunan untuk dimudahkan memberikan perhatian kepadanya, sehingga berhasil menghimpun berbagai bidang ilmu mengenainya yang melegakan dada orang-orang beriman.

At-Tibyan: Adab Penghafal Al-Qur’an, karya Imam Nawawi menjelaskan bagaimana cara kita memuliakan Al-Qur’an, dengan membahas beberapa tema, antara lain:

• Keutamaan pembaca dan penghafalnya

• Keutamaan qiraah dan ahluqiraah

• Keharusan memuliakan ahluqur'an

• Adab untuk pengajar, pelajar, dan penghafal Al-Qur’an

• Adab membaca Al-Qur’an

• Anjuran membaca ayat dan surah pada waktu serta keadaan tertentu

• Adab menulis dan memuliakan mushaf.

• Dsb.

Kitab ini penting untuk dibaca para santri, mahasiswa, pencari ilmu, dan masyarakat umum yang ingin menunaikan adab-adab terhadap Al-Qur’an. Dan, tentu saja, ia merupakan permata ilmu yang sangat berharga bagi Anda, para hafizh Al-Qur’an, penjaga Kitabullah!

Sumber: At-Tibyan: Adab Penghafal Al-Qur’an

Rabu, 22 Juli 2020

“IED Mubarak: Berqurban di Tengah Pandemi Covid-19”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 

Menjelang Idul Adha, masyarakat disibukkan untuk mempersiapkan hewan yang akan diqurbankan. Mengingat pada tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena wabah pandemi covid-19 yang belum usai. Maka bagi yang mau berqurban dihimbau baik oleh para ulama dan pemerintah untuk tidak berkerumun. Tetapi, daging qurban masih bisa dibagikan dengan catatan memperhatikan protokol kesehatan.

Mengenai berqurban, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mensyariatkan melalui Nabi-Nya dan Allah perintahkan kepada Nabi-Nya untuk menyampaikan perintah tersebut kepada umat manusia. Selain pada Q.S Al-Kautsar, perintah berqurban terdapat dalam (Q.S Al-Hajj [22]: 34) sebagaimana berikut:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ (٣٤)

Terjemah: “Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (Q.S Al-Hajj [22]: 34)

Tafsir Kemenag: Allah telah menetapkan syariat bagi tiap-tiap manusia termasuk di dalamnya syariat kurban. Seseorang yang berkurban berarti ia telah menumpahkan darah binatang untuk mendekatkan dirinya kepada Allah dan ingin mencari keridaan Allah. Allah memerintahkan kepada orang-orang yang berkurban itu agar mereka menyebut dan mengagungkan nama Allah waktu menyembelih binatang kurban itu, dan agar mereka mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Di antara nikmat Allah itu ialah berupa binatang ternak, seperti unta, lembu, kambing dan sebagainya yang merupakan rezeki dan makanan yang halal bagi mereka.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang-orang yang beriman dilarang mengagungkan nama apapun selain daripada nama Allah. Setelah datangnya Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir yang membawa risalah bagi seluruh umat manusia, maka agama yang benar dan harus diikuti oleh seluruh umat manusia hanyalah agama Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad.

Firman Allah: Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab. (Ali Imran/3: 19) Lebih jelas lagi siapapun yang mencari atau berpegang pada agama selain Islam maka tidak akan diterima Allah dan termasuk orang yang rugi. Firman Allah: Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi. (Ali ‘Imran/3: 85)

Rasulullah saw menyembelih binatang kurban dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, sebagaimana tersebut dalam hadis beliau: Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah saw dibawakan dua ekor domba yang bagus (pada kedua domba itu terdapat warna putih yang bercampur hitam) yang bertanduk bagus, lalu beliau menyebut nama Allah dan bertakbir (waktu menyembelihnya) dan meletakkan kakinya di atas rusuk binatang itu.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Pada akhir ayat ditegaskan bahwa Allah yang berhak disembah itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan kepercayaan tauhid itu telah dianut pula oleh orang-orang dahulu, karena itu patuh dan taat hanya kepada Allah, mengikuti semua perintah-perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya dan melakukan semua pekerjaan semata-mata karena-Nya dan untuk mencari keridaan-Nya. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang tunduk, patuh, taat, bertobat dan merendahkan dirinya kepada-Nya bahwa bagi mereka disediakan pahala yang berlipat ganda, berupa surga di akhirat nanti.

Perkataan “maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa” memberi peringatan bahwa kurban, menghormati syi’ar-syi’ar Allah, dan beribadah sesuai dengan petunjuk para rasul yang diutus kepada mereka, sekalipun ibadah dan syariat itu berbeda pada tiap-tiap umat, namun termasuk dalam agama Allah, termasuk jalan yang lurus yang harus ditempuh oleh setiap yang mengaku sebagai hamba Allah, dalam menaati dan mencari rida-Nya. Perbedaan cara-cara beribadah antara umat-umat yang dahulu dengan umat-umat yang datang kemudian, di dalamnya umat Nabi Muhammad, janganlah dijadikan alasan yang dapat menimbulkan perpecahan di antara orang-orang yang beriman. Semuanya itu dilakukan dengan tujuan untuk menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selasa, 21 Juli 2020

“Pembentukan Karakter Generasi Z Melalui Cara Pandang Al-Qur’an”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 

Palangka Raya – Selasa 21 Juli 2020 pukul 09.00 WIB – selesai. Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya mengadakan  Webinar Nasional. Kali ini mengusung tema “Eksistensi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dalam Pembentukan Karakter Generasi Z” yang dipimpin oleh seorang moderator; al-Ustadz Muhammad Irfan Wahid, Lc, M.Si. Adapun sebagai narasumber pembuka adalah Rektor Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya; Dr. Khairil Anwar, M. Ag, sebagai narasumber kedua; Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dan sebagai narasumber ketiga; Dr. Muchlis M. Hanafi, MA.

     Sesuai dengan tema yang diusung, fokus bahasan yang dipaparkan yakni mengenai pembentukan karakter generasi Z, terutama di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Erich From (1996: 51-52), seorang psikolog humanis mengatakan bahwa pada setiap diri manusia itu ada yang namanya karakter dan ada pula temperamen. Mungkin karakter itu sama dengan khuluq (perangai yang bisa baik dan bisa pula buruk), sementara temperamen sama dengan khalq (ciptaan atau kejadian). Papar Dr. Khairil, M. Ag, selaku rektor Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya.

     Sementara itu, dalam hal pembentukan karakter tidak hanya aspek rasionalitas yang dilibatkan, namun yang tak kalah pentingnya dari itu, bahkan paling utama adalah adab dan spiritualitas. Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA selaku Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta mengungkapkan bahwa para Ilmuwan Muslim produktif di dalam keilmuannya karena memperhatikan aspek ibadah, semisal dengan tahajjud sembari menyempatkan diri untuk belajar atau menulis kitab. Tidak hanya itu, ilmu tidak akan berkah jika hidup tidak disibukkan dengan ibadah. Jangan bermimpi mendapatkan ilmu yang tinggi, jika diri menjadi langganan maksiat. Ungkap beliau.

     Lalu, siapakah generasi Z? Generasi Z adalah generasi penerus setelah generasi milenial. Lahir dalam rentang 1995 hingga 2010. Disebut juga generasi Z, seperti iGen (iGeneratioan), gen Net (generasi internet), gen Tech, digital natives, dan plurals. Kelebihan  generasi Z mempunyai inteletualitas yang baik, terbuka terhadap segala sesuatu, mendapatkan informasi yang lebih banyak, motivasi tinggi terhadap suatu hal, dan melakukan  banyak hal dalam satu waktu. Namun, diantara kekurangannya: individualistis, tidak focus, suka yang instan, kurang menghargai proses, dan memiliki emosi yang labil. Tambah Dr. Muchlis M. Hanafi, MA selaku Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kemenag RI, menurut beliau sebuah keharusan dan menjadi kewajiban dalam membimbing dan memberi nasihat kepada generasi Z melalui cara atau metode Al-Qur’an: 1) Secara langsung, kisah, perumpamaan, dan dialog, 2) Pembiasaan, 3) Lingkungan atau teman yang baik, 4) Reward dan punishment: Marah/sindiran, ancaman, imbalan, pujian dan, hadiah, 5) Keteladanan: Tampilkan perilaku yang relevan dengan harapan anak. Lihatlah profil pemuda dalam Al-Qur’an: 1) Thalut: Kuat dan berpengetahuan luas, serta terampil kelola pemerintahan, 2) Yusuf: Cerdas-berintegritas, 3) Ashabul Kahfi: Kuat iman dan tangguh dalam pendirian.

Senin, 20 Juli 2020

Al-Qur’an Sebagai al-Syifaa: “Lawan Covid-19, Jangan Asal Pakai Obat”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 

Dunia tengah melakukan riset, mencari tahu obat dan vaksin yang mujarab melawan covid-19. Sementara itu, masyarakat umum jangan sembarangan pakai obat-obatan, apalagi obat keras!  Berkonsultasilah dengan dokter jika sakit dan/atau hendak mengonsumsi obat dengan resep (lihat covid19.go.id) sebab itu, obat tanpa resep atau anjuran medis dikhawatirkan akan berakibat fatal, karena sebelumnya kita tidak tahu pasti takaran dan jenis obatnya yang cocok dengan sakit yang sedang di derita. Supaya lebih aman, temuilah pakar dibidangnya.

     Pada masa pademi seperti saat ini, kita harus selektif di dalam memilah dan memilih sesuatu, semisal obat dan lain sebagainya. Jangan sampai membahayakan diri kita sendiri, bukannya kita ingin sehat? Jangan sampai malah sebaliknya! Akibat kecerobohan kita. Berikhtiarlah semaksimal mungkin demi sehatmu yang baik. Namun, apapun itu jika ingin mendapatkan hail yang maksimal, maka jangan lupa ketuklah pintu langit dengan ayat-ayat-Nya. Karena al-Qur’an adalah sebaik-baik obat atau syifa, penawar bagi penyakit zahir maupun batin. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا (٨٢)

Terjemah: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (Q.S Al-Isra’ [17]: 82)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt menurunkan Al-Qur’an kepada Muhammad sebagai obat dari penyakit hati, yaitu kesyirikan, kekafiran, dan kemunafikan. Al-Qur’an juga merupakan rahmat bagi kaum Muslimin karena memberi petunjuk kepada mereka, sehingga mereka masuk surga dan terhindar dari azab Allah.

Al-Qur’an telah membebaskan kaum Muslimin dari kebodohan sehingga mereka menjadi bangsa yang menguasai dunia pada masa kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah. Kemudian mereka kembali menjadi umat yang terbelakang karena mengabaikan ajaran-ajaran Al-Qur’an. Dahulu mereka menjadi umat yang disegani, tetapi kemudian menjadi pion-pion yang dijadikan umpan oleh musuh dalam percaturan dunia. Karena mereka dulu melaksanakan ajaran Al-Qur’an, negeri mereka menjadi pusat dunia ilmu pengetahuan, perdagangan dunia, dan sebagainya, serta pernah hidup makmur dan bahagia. Ayat ini memperingatkan kaum Muslimin bahwa mereka akan dapat memegang peranan kembali di dunia, jika mau mengikuti Al-Qur’an dan berpegang teguh pada ajarannya dalam semua bidang kehidupan.

Sebaliknya jika mereka tidak mau melaksanakan ajaran Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan agama dan masyarakat, serta hanya mementingkan kehidupan dunia, maka Allah akan menjadikan musuh-musuh mereka sebagai penguasa atas diri mereka, sehingga menjadi orang asing atau budak di negeri sendiri.

Cukup pahit pengalaman kaum Muslimin akibat mengabaikan ajaran Al-Qur’an. Al-Qur’an menyuruh mereka bersatu dan bermusyawarah, tetapi mereka berpecah belah karena masalah-masalah khilafiah yang kecil dan remeh, sedangkan masalah-masalah yang penting dan besar diabaikan.

Ayat ini juga mengingatkan kaum Muslimin bahwa bagi orang-orang yang zalim, yaitu yang ingkar, syirik, dan munafik, Al-Qur’an hanya akan menambah kerugian bagi diri mereka, karena setiap ajaran yang dibawa Al-Qur’an akan mereka tolak. Padahal, jika diterima, pasti akan menguntungkan mereka.

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...