Rabu, 10 Januari 2018

Book Review : Buku Filsafat Umum (Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra)




BOOK REVIEW FILSAFAT UMUM

Judul Buku   : Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra
Pengarang    :  Prof. Dr. Ahmad Tafsir
Terj               :  xxxxxx
Penerbit        : PT REMAJA ROSDAKARYA
Tahun           : 2009
Tebal            : 276 Halaman







Oleh Muhammad Syafi'i
A.    PENDAHULUAN
Filsafat memang tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Filsafat bahkan diibaratkan seperti ratu dan induk dari semua ilmu pengetahuan, ratu yang memahkotai semua ilmu dengan cirinya yang paling mendasar, yakni: bertanya. Namun dalam filsafat, pertanyaan tersebut datang dari berbagai macam sisi, khususnya dari sisi yang paling umum dan mendasar menyangkut hakikat, inti, serta pengertian paling mendasar.[1]
Poedjawijatna (1974:1) menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata Arab yang berhubungan rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata Yunaninya ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia; philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam.[2]
Buku Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Chapra ini merupakan buku cetakan ke tujuh belas, sebelumnya cetakan yang pertama diterbitkan pada tahun 1990.
Sekilas tentang buku ini mencakup kajian-kajian filsafat yang cukup lengkap didalamnya. Buku ini memiliki delapan bab yang dibahas pada masing-masing tema pembahasannya sendiri. Dengan adanya khulasah, ulasan, kesimpulan, dan ikhtisar di beberapa tiap akhir pada bagian babnya serta di muat juga dengan kutipan-kutipan, daftar pustaka dan indeks, membuat mudah dalam memahami isi pada tiap bahasannya. Selain itu nampak dari cover buku ini memiliki corak abstrak berwarna yang mana menarik perhatian untuk membaca dan mengkaji buku ini lebih dalam.
Selain itu, buku ini memiliki kecenderungan dengan kritik logis dari penulis yang Islami. Sehingga buku ini cocok ditujukan kepada pemula. Artinya, kepada siapa saja yang baru belajar filsafat dan ingin tahu tentang filsafat secara umum, khususnya untuk mahasiswa perguruan tinggi yang memang di tuntut dan harus mempelajari atau mengkaji buku ini, karna buku ini merupakan pengantar kepada filsafat yang harus dipelajari terlebih dahulu sebelum mempelajari buku-buku filsafat yang lainnya.
Sebagai penguat buku ini menerapkan lebih jauh cabang-cabang filsafat yang pernah mendunia antara lain di mulai sejak filsafat Yunani sampai filsafat pascamodern, tentunya hal itu mempunyai nilai tersendiri.
Dari setiap keunikan dan kelebihan sebuah buku, tentunya setelah saya membaca buku ini saya memiliki tanggapan tersendiri terhadap materi-materi yang ada di dalam buku ini. Apa yang menjadi tanggapan saya, itulah yang telah saya pahami dari hasil bacaan saya. Buku ini mampu menggambarkan filsafat supaya lebih mudah untuk dipahami pembaca, penulis buku ini membuat suatu karya yang praktis pengantar tentang filsafat.
B.     ISI BUKU
Bab I merupakan sebuah pendahuluan yang menjelaskan mengenai sistem yang hendak diajukan dalam buku ini ialah: manusia ideal ialah manusia yang utuh, yaitu manusia yang menggunakan indera, akal, dan hatinya secara seimbang, manusia yang jalan hidupnya ditentukan oleh pertimbangan indera, akal, dan hatinya secara seimbang, sekaligus, dan menyeluruh. Di dalam sistem ini dijelaskan bahwa antara indera, akal dan hati tidaklah terdapat persengketaan; mereka masing-masing mempunyai daerah, paradigma, metode, ukuran sendiri-sendiri; mereka saling melengkapi.
Karena buku ini disediakan untuk pelajar tingkat pemula maka uraian tentang apa filsafat itu perlu diberikan lebih dulu (Bab II).
Bab II merupakan sebuah pengantar, pada bagian ini diperkenalkan lebih dulu apa filsafat itu, apa yang mendorong timbulnya filsafat, macam pengetahuan manusia, faidah mempelajari filsafat, cara mempelajari filsafat, objek penelitian filsafat, metode penelitian filsafat, dan terakhir struktur filsafat serta beberapa isme dalam filsafat. Semua topik itu juga bertujuan memperkenalkan apa filsafat itu sesungguhnya.
Penulis buku ini Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan di dalam bukunya bahwa mula-mula filsafat diartikan sebagai the love of wisdom atau love for wisdom. Pada fase ini filsafat berarti sifat seseorang yang berusaha menjadi orang yang bijak atau sifat orang yang ingin atau cinta pada kebijakan. Pada fase ini filsafat juga berarti sebagai kerja seseorang yang berusaha menjadi orang yang bijak. Jadi, yang pertama filsafat sebagai sifat, dan yang kedua filsafat sebagai kerja. Sekedar catatan, Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer  memberikan penjelasan mengenai seseorang yang berfilsafat dapat diumpakan seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seseorang yang berdiri di puncak tinggi memandang arah dan lembah di bawahnya.[3]
Mengenai hal-hal yang mendorong timbulnya filsafat Prof. Dr. Ahmad Tafsir menyatakan, bahwa keingintahuanlah pada dasarnya penyebab timbulnya filsafat. Ingin tahu ini dahulunya disebabkan oleh  dongeng dan keheranan pada kebesaran alam; pada zaman modern ingin tahu timbul karena sangsi, lantas ingin kepastian. Ingin tahu dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan menimbulkan filsafat.
Prof. Dr. Ahmad Tafsir membagi macam-macam pengetahun manusia menjadi tiga, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan sains ialah pengetahuan yang logis dan didukung oleh bukti yang empiris. Namun, pada dasarnya pengetahuan sains tetaplah suatu pengetahuan yang berdasarkan bukti nyata. Adapun pengetahuan filsafat ialah sejenis pengetahuan yang diperoleh dengan cara berpikir logis tentang objek yang abstrak logis. Sedangkan pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang ukuran kebenarannya ditentukan oleh rasa, yakin, kadang-kadang empiris.
Menurut beliau sekurang-kurangnya ada empat faidah mempelajari filsafat: agar terlatih belajar serius, agar mampu mempelajari filsafat, agar mungkin menjadi filosof, dan agar menjadi warga negra yang baik. Dan ada tiga metode mempelajari filsafat: sistematis, historis dan kritis.
Beliau juga membagi objek penelitian filsafat, yakni objek materia dan objek forma. Objek materia adalah objek yang diselidiki filsafat. Objek materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. Sedangkan objek forma adalah penyelidikan yang mendalam. Artinya, ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagian dalamnya. Kata mendalam artinyaingin tahu tentang objek yang tidak empiris.
Selain itu Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan mengenai sistematika filsafat yang mempunyai tiga cabang besar yang meliputi epistemologi, ontologi dan aksiologi. Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelari soal tentang watak, batas-batas, dan berlakunya ilmu pengetahuan.[4] Ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M.[5] Sedangkan aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang membahas masalah nilai, sehingga aksiologi diartikan sebagai filsafat nilai.[6]
Pada bab III buku ini membahas mengenai akal dan hati pada zaman Yunani Kuno, ciri-ciri umum filsafat Yunani adalah rasionalisme. Rasionalisme mencapai puncaknya pada orang-orang sofis. Untuk melihat rasionalisme sofis perlu memahami lebih dahulu latar belakangnya. Latar belakang itu terletak pada pemikiran filsafat yang ada sebelumnya, yaitu pemikiran-pemikran Thales, Anaximander, Heraclitus, Paramanides, Protagoras, Gorgias, Socrates, Plato dan Aristoteles.
Pada bab IV buku ini membahas mengenai akal dan hati pada abad pertengahan yang dipengaruhi oleh beberapa tokoh, yang pertama  Plotinus (204-270) ajaran Plotinus atau Ployinisme erat kaitannya dengan ajaran Plato, yakni menganut realitas idea, kedua Augustinus (354-430) alih-alih akal dan pemikiran kritis diambilnya keimanan, alih-alih manusia dan kemampuannya diambil kedaulatan Tuhan. Intelektualisme tidak penting dalam sistemnya, yang penting ialah cinta kepada Tuhan (Mayer, 357) ketiga Anselmus (1033-1109) ia mendahulukan iman daripada akal. Ia mengatakan bahwa wahyu harus diterima lebih dulu sebelum kita mulai berpikir dan yang ke empat adalah Thomas Aquinas (1225-1274) pandangannya tentang pengetahuan dipengaruhi oleh keyakinan bahwa Tuhan adalah awal dan akhir segala kebijakan.
Pada bab V Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan mengenai akal dan hati pada zaman modern. Pada bab ini beliau menyatakan bahwa banyak oang yang jengkel oleh dominasi gereja. Rene decrates jelas bertujuan untuk melepaskan filsafat dari kekangan gereja, terlihat dari argumen cogito yang terkenal. Setelah itu banyak bermunculan filsof-filsof yang lain. Akal yang dikekang selama kira-kira 1500 tahun itu sekarang berpesta pora merayakan kebebasannya. Adapun periode-periodenya meliputi periode renaissance, rasionalisme, idealisme objektif, idealisme theist, empirisme, pragmatisme dan eksistensialisme.
Selanjutnya pada bab VI membahas mengenai akal dan hati di jalur timur. Beliau menjelaskan di jalur timur, yaitu dunia  Islam. Mengenai sifat dominasi, akal di timur dihargai, tetapi tidak sampai mendominasi jalan hidup sehingga orang Islam meninggalkan agama, lalu mengambil materialisme danateisme. Filsafat Yunani banyak mempengaruhi perkembangan filsafat dan sains dalam Islam. Filsafat Yunani mulai berkembang mulai sejakkurang lebih tahun 600 SM. Islam lahir pada tahun 600-an. Filsafat dalam Islam berkembang secara intensif sejak tahun 800-an.
Pada bab VII membahas mengenai keseimbangan indera, akal dan hati. Beliau menjelaskan kemantapan hidup hanya ditetentukan oleh dua hal, yaitu kaidah sains dan filsafat di satu pihak dan akidah agama dipihak lain. Keduanya telah diragukan pada masa sofisme. Tentu saja kehidupan menjadi kacau karena sistem nilai telah kacau. Pada abad pertengahan, terutama sejak tahun 200-an, akal kalah total dan iman menang mutlak. Keadan ini seharusnya telah dapat diperhitungkan sebelum terjadi.
Terakhir pada bab VIII Prof. Dr. Ahmad Tafsir menjelaskan mengenai keseimbanga akal dan hati pada zaman pascamodern. Bahwa, kritik filsafat pascamoden terhadap filsafat modeern terungkap dalam istilah dekontruksi seperti yang digunakan para tokoh filsafat pasca modern. Yang di dekonstruksi tentu saja rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat. Beberapa tokoh dalam filsafat pascamodern  yaitu Arkoun, Derrida, Foucault dan Wittgenstein.
C.    PEMBAHASAN
Prof. Dr. Ahmad Tafsir, penulis buku ini mampu menggambarkan filsafat supaya lebih mudah untuk dipahami pembaca, beliau membuat karyanya membuat suatu karya yang praktis pengantar filsafat yang membuat pembaca mengerti sedikit tentang filsafat, beliau juga banyak memberikan contoh-contoh yang mudah dicerna dan di pahami maksudnya. Buku filsafat umum ini mencoba meringkas beberapa pemikiran tokoh filsafat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami, hal itu menjadi suatu kelebihan dari buku ini. Dengan adanya khulasah, ulasan, kesimpulan, dan ikhtisar di beberapa tiap akhir pada bagian babnya serta di muat juga dengan kutipan-kutipan, daftar pustaka dan indeks, membuat mudah dalam memahami isi pada tiap bahasannya.
Selain itu, buku ini juga mempunyai isi yang terstruktur dengan baik. Penulis mulai berbicara dengan hal-hal yang sederhana dan mendasar seperti yang ditemukan pada bab I yang dimulai dengan pendahuluan,  pada bab II tentang apa itu filsafat, bab III dan seterusnya sudah mulai masuk ke pembahasan, mulai dari filsafat Yunani, filsafat abad pertengahan, filsafat abad modern, pemikiran filsafat di timur, hingga filsafat pascamodern. Setidaknya kepingan informasi berhasil disusun penulis sebagaia bekal untuk memahami apa yang dibicarakan pada bab berikutnya. Struktur isi buku ini terbangun dengan baik dan alur buku ini terbagun dengan baik pula, membuat pembaca tidak cepat jenuh dalam membalik setiap lembarannya.
Dilihat dari desain sampulnya nampak dari cover buku ini memiliki corak abstrak berwarna yang mana menarik perhatian untuk membaca dan megkaji buku ini lebih dalam. Pemilihan warna biru yang mendominasi cover buku ini dan dengan desain yang mengaplikasikan gambar seseorang yang sedang berpikir, tentu erat kaitannya dengan filsafat itu sendiri dan memiliki makna yang sangat dalam.
            Namun meski buku ini merupakan buku pengantar filsafat yang praktis, tetap saja bagi orang awam masih kesulitan untuk memahami filsafat.
D.    PENUTUP
Secara keseluruhan buku ini sangat cocok dan layak untuk bahan bacaan dan daftar rujukan untuk mahasiswa. Selain itu, untuk semua kalangan umum yang ingin tahu atau sekedar tahu mengenai apa itu filsafat. Buku ini menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang mungkin belum terjawab mengenai tentang apa filsafat itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Keraf, A. Sonny, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Chapra, Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2009.

Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1984.

Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2001.

Bahtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Izah Ulya Qadam, “Kualitas Pendidikan Berbasis Filsafat Ilmu”. Jurnal Penelitian. Vol. 9, No. 2, Agustus, 2015.



[1]A. Sonny Keraf  - Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 1.
[2]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Chapra,  (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2009), hlm. 9.
[3]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Sinar Harapan, 1984), hlm. 20.
[4]Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2001), hlm. 137.
[5]Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 134.
[6]Izah Ulya Qadam, “Kualitas Pendidikan Berbasis Filsafat Ilmu”. Jurnal Penelitian. Vol. 9, No. 2, Agustus 2015, hlm. 339.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...