Sabtu, 08 Agustus 2020

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

 Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020


Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i

Vocal: Muhammasd Sapi’i

Editor: Muhammad Sapi’i

Aransemen Lagu: Beza Simamora – BES Studio

NEGERI PARA PEJUANG

Oleh: Muhammad Sapi’i

P=anji juang kini berkibar di tiang penuh keringat para pahlawan

A=pi semangat berkobar menembus selaksa nalar

D=ada membusung pertanda gendrang ditabuh pemantik asa

A=feksi rasa riuh bergemuruh menembus relung prayitna

M=erdeka harus kita rengkuh agar terus bertumbuh di tanah air kita

U=mumkan pada dunia bahwa kita ada dengan sejuta barisan pemuda

 

N=irmala gelorakan jangan padam oleh terpaan badai                                                                                                                                                                                                                                            E=legi juang mari kita renungkan dalam hening cipta pada Sang Kuasa

G=ema takbir lantang memekik cakrawala angkasa raya

E=ra kini semakin kaya teknologi besi dan baja

R=epublik harus tetap kokoh di atas itu semua

I=ndonesia namamu masyhur hingga seantero buana

 

K=ita harus maju bersama di bumi Pancasila

A=yolah para generasi muda penerus para pahlawan bangsa

M=entalitas kita pupuk bersama demi juang nusantara

I=ntan, emas, permata segudang kekayaan kita

 

M=ari jaga dan makmurkan untuk para rakyat jelata

E=nyahlah para penjajah kami tak sudi dengan tamu tak tahu diri

N=estapa jangan sampai menghantui anak bangsa

G=ugur para pahlawan menjadi saksi juang tak boleh berhenti

A=ngkatlah tangan dan singsingkan lengan baju

B=ersama kita maju bersama kita serbu

D=engan do’a, usaha dan cita-cita mulia

I=nna ma’al usri yusra: “Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (al-Ayat)

Palangka Raya, 08 Agustus 2020

Puisi di atas kupersembahkan kepada negeri jaya sakti Indonedsia tercinta, sebagai sambutan Hari Kemerdekaan yang ke-75 pada tanggal 17 Agustus 2020 mendatang. Meskipun wabah pandemi belum usai, semangat nasionalisme kita tidak boleh padam. Mari kita satukan pemikiran dan langkah, jangan sampai perpecahan ada dan bertumbuh. Semoga negeri ini menjadi negeri yang aman dan damai sebagaimana di dalam firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ  ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ  ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ (١٥)

Terjemah: Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (Q.S Saba [34]: 15)

Tafsir Kemenag: Di sebelah selatan negeri Yaman berdiam suatu kaum bernama Saba. Mereka menempati suatu daerah yang amat subur sehingga mereka hidup makmur dan telah mencapai kebudayaan yang tinggi. Mereka dapat menguasai air hujan yang turun lebat pada musim tertentu dengan membangun sebuah bendungan raksasa yang dapat menyimpan air untuk musim kemarau. Bendungan itu boleh dikatakan bendungan alami karena terletak di antara dua buah bukit dan di ujungnya didirikan bangunan yang tinggi untuk mencegah air mengalir sia-sia ke padang pasir. Mereka membuat pintu-pintu air yang bila dibuka dapat mengalirkan air ke daerah yang mereka kehendaki. Bendungan ini terkenal dengan Bendungan Marib atau Bendungan al-Arim.

Banyak di antara ahli sejarah dan peneliti di barat meragukan tentang adanya Bendungan Ma'rib ini. Akhirnya seorang peneliti dari Perancis datang sendiri ke selatan Yaman untuk menyelidiki sisa-sisa bendungan itu pada tahun 1843. Dia dapat membuktikan adanya bendungan itu dengan menemukan bekas-bekasnya, lalu memotret dan mengirimkan gambar-gambarnya ke suatu majalah di Perancis. Para peneliti lainnya menemukan pula beberapa batu tulis di antara reruntuhan bendungan itu. Dengan demikian, mereka bertambah yakin bahwa dahulu kala di sebelah selatan Yaman telah berdiri sebuah kerajaan yang maju, makmur, dan tinggi kebudayaannya.

Pada ayat ini, Allah menerangkan sekelumit tentang kaum Saba yang mendiami daerah sebelah selatan Yaman itu. Mereka menempati sebuah lembah yang luas dan subur berkat pengairan yang teratur dari Bendungan Marib. Di kiri dan kanan daerah mereka terbentang kebun-kebun yang amat luas dan subur yang menghasilkan bahan makanan dan buah-buahan yang melimpah ruah.

Kaum Saba’ pada mulanya menyembah matahari, namun setelah pimpinan kerajaan dipegang Ratu Balqis, mereka menjadi kaum yang beriman dengan mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Sulaiman. Hal ini diceritakan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba' membawa suatu berita yang meyakinkan. Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar. Aku (burung Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk.” (an-Naml/27: 22-24)

Tetapi, lama-kelamaan kaum Saba' menjadi sombong dan lupa bahwa kemakmuran yang mereka miliki adalah anugerah dari Yang Mahakuasa dan Maha Pemurah. Allah dengan perantaraan rasul-Nya memerintahkan agar mereka mensyukuri-Nya atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkan kepada mereka. Negeri mereka menjadi subur dan makmur berkat karunia Allah Yang Maha Pengampun, melindungi mereka dari segala macam bahaya dan malapetaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...