Dilansir dari Republika.co.id (Rep: Rahayu
Subekti–Red: Friska Yolandha, 2/8/2020) bahwa Kementerian Perhubungan
(Kemenhub) mencatat adanya peningkatan pergerakan penumpang transportasi umum
pada masa Libur Idul Adha di terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan. Juru
Bicara Kemenhub Adita Irawati mengatakan puncak arus balik Idul Adha 2020 akan
terjadi pada hari ini, Ahad (2/8).
Sebelumnya Kemenhub memprediksi akan terjadi
peningkatan penumpang pada hari Raya Idul Adha 2020 karena jatuh pada Jumat
(31/7) saat akhir pekan. “Berdasarkan pantauan kami, sejumlah penumpang
transportasi umum mengalami peningkatan dibanding hari biasa,” kata Adita dalam
pernyataan tertulis, Ahad.
Oleh sebab itu, masyarakat yang sedang
melakukan perjalanan dihimbau untuk selalu mematuhi protokol kesehatan.
Terutama para lansia dan ibu hamil agar tetap sehat dan tidak terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan. Namun, himbauan ini berlaku untuk semua kalangan tanpa
terkecuali. Hendaknya kita tiada hentinya untuk selalu bekerjasama dalam
memutus mata rantai penyebaran covid-19 yang penyebarannya belum sepenuhnya
terkendalikan. Tetapi, kita selalu optimis berusaha untuk mencegahnya.
Karena itu, kesehatan sangat penting dan kita
dianjurkan untuk menjaga kesehatan; supaya badan sehat dan aktivitas lancar
serta jangan lupa memohon kepada-Nya agar wabah pandemi covid-19 ini segera
berakhir. Dalam hal ini kita patut mencontoh dari kisah Nabiyullah Ayyub ‘alahis
salaam, beliau sangat tabah dan sabar dalam menghadapi ujian atau cobaan dari
Rabb-Nya. Sebagaimana di dalam firman-Nya:
۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى
رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ ۚ (٨٣)
Terjemah: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika
dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit,
padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (Q.S
Al-Anbiya’ [21]: 83)
Tafsir Kemenag: Dengan ayat ini Allah
mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Ayyub a.s. yang
ditimpa suatu penyakit yang berat sehingga berdoa memohon pertolongan Tuhannya
untuk melenyapkan penyakitnya itu, karena ia yakin bahwa Allah amat penyayang.
Pendapat ulama lain mengatakan bahwa Nabi
Ayyub pada ayat ini hanya mencurahkan isi hatinya kepada Allah seraya mengagungkan
kebesaran Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Walaupun berbeda-beda riwayat yang diperoleh
tentang Nabi Ayyub, baik mengenai pribadinya, masa hidupnya dan macam penyakit
yang dideritanya, namun ada hal-hal yang dapat dipastikan tentang dirinya,
yaitu bahwa dialah seorang hamba Allah yang saleh, telah mendapat cobaan dari
Allah, baik mengenai harta benda, keluarga, dan anak-anaknya, maupun cobaan
yang menimpa dirinya sendiri. Dan penyakit yang dideritanya adalah berat.
Meskipun demikian semua cobaan itu dihadapinya dengan sabar dan tawakkal serta
memohon pertolongan dari Allah dan sedikit pun tidak mengurangi keimanan dan
ibadahnya kepada Allah.
Kemudia Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman
pada ayat selanjutnya:
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ
وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ (٨٤)
Terjemah: “Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu
Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya
kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari
Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” (Q.S
Al-Anbiya’ 21:84)
Tafsir Kemenag: Oleh sebab itu, dalam ayat ini
Allah mengabulkan doanya dan menyembuhkannya dari penyakit itu, serta
mengaruniainya rahmat yang lebih banyak dari apa yang telah hilang dari
tangannya, dan kemudian Allah mengangkatnya menjadi nabi.
Setelah Nabi Ayyub sembuh dari penyakitnya
beliau hidup bersama keluarganya kembali, dan keluarganya itu berkembang biak
pula dengan subur, sehingga jumlahnya menjadi dua kali lipat dari jumlah
semula.
Kesemuanya itu adalah rahmat Allah kepadanya,
atas keimanan, kesabaran, ketakwaan dan kesalehannya, Al-Qur'an mengungkapkan
kisah ini untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi semua orang yang beriman
dan beribadah kepada Allah, bahwa:
a. Allah memberi
rahmat dan pertolongan kepada hamba-Nya yang mukmin, bertakwa, saleh dan sabar.
b. Orang-orang yang mukmin pun tidak luput dari
cobaan, berat atau pun ringan, sebagai ujian bagi mereka.
c. Orang yang
beriman tidak boleh berputus asa dari rahmat Tuhannya.
Semakin tinggi kedudukan dan tanggung jawab
manusia, semakin berat pula cobaan yang diterimanya. Dalam hubungan ini
Rasulullah saw bersabda:
“Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada
Rasulullah, “Siapa orang yang paling berat cobaannya, Rasulullah menjawab,
Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, orang-orang yang mirip para
nabi, kemudian orang-orang yang mirip mereka.” (Riwayat Ibnu Majah dari Sa’ad
bin Abi Waqash)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar