Minggu, 02 Agustus 2020

“Puncak Arus Balik Idul Adha 2020: Patuhi Protokol Kesehatan Saat Bertransportasi”



Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020

Dilansir dari Republika.co.id (Rep: Rahayu Subekti–Red: Friska Yolandha, 2/8/2020) bahwa Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat adanya peningkatan pergerakan penumpang transportasi umum pada masa Libur Idul Adha di terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan. Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati mengatakan puncak arus balik Idul Adha 2020 akan terjadi pada hari ini, Ahad (2/8).

Sebelumnya Kemenhub memprediksi akan terjadi peningkatan penumpang pada hari Raya Idul Adha 2020 karena jatuh pada Jumat (31/7) saat akhir pekan. “Berdasarkan pantauan kami, sejumlah penumpang transportasi umum mengalami peningkatan dibanding hari biasa,” kata Adita dalam pernyataan tertulis, Ahad.

Oleh sebab itu, masyarakat yang sedang melakukan perjalanan dihimbau untuk selalu mematuhi protokol kesehatan. Terutama para lansia dan ibu hamil agar tetap sehat dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, himbauan ini berlaku untuk semua kalangan tanpa terkecuali. Hendaknya kita tiada hentinya untuk selalu bekerjasama dalam memutus mata rantai penyebaran covid-19 yang penyebarannya belum sepenuhnya terkendalikan. Tetapi, kita selalu optimis berusaha untuk mencegahnya.

Karena itu, kesehatan sangat penting dan kita dianjurkan untuk menjaga kesehatan; supaya badan sehat dan aktivitas lancar serta jangan lupa memohon kepada-Nya agar wabah pandemi covid-19 ini segera berakhir. Dalam hal ini kita patut mencontoh dari kisah Nabiyullah Ayyub ‘alahis salaam, beliau sangat tabah dan sabar dalam menghadapi ujian atau cobaan dari Rabb-Nya. Sebagaimana di dalam firman-Nya:

۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ ۚ (٨٣)

Terjemah: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (Q.S Al-Anbiya’ [21]: 83)

Tafsir Kemenag: Dengan ayat ini Allah mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Ayyub a.s. yang ditimpa suatu penyakit yang berat sehingga berdoa memohon pertolongan Tuhannya untuk melenyapkan penyakitnya itu, karena ia yakin bahwa Allah amat penyayang.

Pendapat ulama lain mengatakan bahwa Nabi Ayyub pada ayat ini hanya mencurahkan isi hatinya kepada Allah seraya mengagungkan kebesaran Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Walaupun berbeda-beda riwayat yang diperoleh tentang Nabi Ayyub, baik mengenai pribadinya, masa hidupnya dan macam penyakit yang dideritanya, namun ada hal-hal yang dapat dipastikan tentang dirinya, yaitu bahwa dialah seorang hamba Allah yang saleh, telah mendapat cobaan dari Allah, baik mengenai harta benda, keluarga, dan anak-anaknya, maupun cobaan yang menimpa dirinya sendiri. Dan penyakit yang dideritanya adalah berat. Meskipun demikian semua cobaan itu dihadapinya dengan sabar dan tawakkal serta memohon pertolongan dari Allah dan sedikit pun tidak mengurangi keimanan dan ibadahnya kepada Allah.

Kemudia Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pada ayat selanjutnya:

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ (٨٤)

Terjemah: “Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” (Q.S Al-Anbiya’ 21:84)

Tafsir Kemenag: Oleh sebab itu, dalam ayat ini Allah mengabulkan doanya dan menyembuhkannya dari penyakit itu, serta mengaruniainya rahmat yang lebih banyak dari apa yang telah hilang dari tangannya, dan kemudian Allah mengangkatnya menjadi nabi.

Setelah Nabi Ayyub sembuh dari penyakitnya beliau hidup bersama keluarganya kembali, dan keluarganya itu berkembang biak pula dengan subur, sehingga jumlahnya menjadi dua kali lipat dari jumlah semula.

Kesemuanya itu adalah rahmat Allah kepadanya, atas keimanan, kesabaran, ketakwaan dan kesalehannya, Al-Qur'an mengungkapkan kisah ini untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi semua orang yang beriman dan beribadah kepada Allah, bahwa:

a.       Allah memberi rahmat dan pertolongan kepada hamba-Nya yang mukmin, bertakwa, saleh dan sabar.

b.       Orang-orang yang mukmin pun tidak luput dari cobaan, berat atau pun ringan, sebagai ujian bagi mereka.

c.       Orang yang beriman tidak boleh berputus asa dari rahmat Tuhannya.

Semakin tinggi kedudukan dan tanggung jawab manusia, semakin berat pula cobaan yang diterimanya. Dalam hubungan ini Rasulullah saw bersabda:

“Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada Rasulullah, “Siapa orang yang paling berat cobaannya, Rasulullah menjawab, Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, orang-orang yang mirip para nabi, kemudian orang-orang yang mirip mereka.” (Riwayat Ibnu Majah dari Sa’ad bin Abi Waqash)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...