Masa pandemi, Internet kian menjadi tumpuan
anak / murid untuk belajar, sosialisasi hingga hiburan. Namun hal negatif
semisal konten dewasa hingga terkaman pedofil mengincar. Orang tua dan guru,
dampingi selalu anak / murid ketika online dan cegah data pribadi mereka
tersebar (lihat covid19.go.id). Menjaga data dan privasi pribadi anak / murid
sangatlah penting, kita patut waspada karena kejahatan di dunia maya atau media
sosial selalu mengincar siapapun tanpa pandang bulu.
Marilah kita cegah bersama sebelum itu
terjadi, dengan cara membimbing atau mengawasi anak / murid di dalam proses
belajar tersebut. Selain itu, batasi penggunaan Internet pada mereka, ketika
belajarnya sudah selesai langsung perintah untuk istirahat atau melakukan kegiatan
positif lainnya, agar anak / murid tidak terlalu candu pada Internet, karena
usia belia masih rentan dalam penggunaan media sosial.
Karena orang tua atau guru merupakan akar pendidikan
para anak / murid. Terlebih orang tua, yang merupakan sekolah pertama bagi para
anak-anaknya. Maka orang tua harus menjaga amanah tersebut yang telah
dititipkan oleh Sang Pencipta. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ
وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (٢٧)
Terjemah: “Wahai orang-orang yang beriman!
Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu
mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Q.S
Al-Anfal [8]: 27)
Tafsir Ringkas Kemenag: Bersyukur adalah
sebuah keharusan, sebab aneka nikmat tersebut bersumber dari Allah. Tidak
bersyukur berarti mengkhianati nikmat tersebut dari Pemberinya, karena itu
Allah menyatakan, Wahai orangorang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati,
yakni mengurangi sedikit pun hak Allah sehingga mengkufurinya atau tidak
mensyukurinya, dan juga jangan mengkhianati Rasul, yakni Nabi Muhammad, tetapi
penuhilah seruannya, dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat yang
dipercayakan kepadamu oleh siapa pun, baik amanat itu ada-lah amanat orang lain
maupun keluarga; seperti istri dan anak, muslim atau non-muslim, sedang kamu
mengetahui bahwa itu adalah amanat yang harus dijaga dan dipelihara. Segala
sesuatu yang berada dalam genggaman manusia adalah amanat Allah yang harus
dijaga dan dipelihara. Salah satu bentuk motivasi mengkhianati amanat Allah dan
Rasul-Nya adalah cinta kepada harta dan anak yang berlebihan. Maka pada ayat
ini Allah menyatakan, Dan ketahuilah bahwa hartamu yang merupakan titipan Allah
kepadamu dan anak-anakmu yang merupakan anugerah Allah itu hanyalah sebagai
cobaan. Maka, ja-nganlah berlebihan dalam mencintai harta dan anak melebihi
cinta pada Allah. Cinta harta dan anak yang berlebihan membuat seseorang enggan
memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya karena takut atau kikir, sebab panggilan
tersebut menuntut tanggung jawab dan pengorbanan. Dan ketahuilah, sesungguhnya
di sisi Allah ada pahala yang besar, jauh lebih besar daripada harta dunia dan
anak keturunan.
Demikian pula, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada
kedua orang tua. Dari Ibnu Radhiallahu ‘Anhu, bahwa dia berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Terjemah: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin
bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
(HR. Bukhari, no. 2278).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar