Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, dr.
Erlina Burhan, Sp.P, mengatakan bahwa penggunaan masker kain bisa menjadi
alternatif bagi orang yang sehat sebagai bagian proteksi diri dari ancaman
virus. Namun, masyarakat tetap harus menjaga jarak aman sejauh satu hingga dua
meter dari orang lain saat berada di tempat ramai. Jika memang benar-benar
tidak punya masker, maka kita bisa membuat masker kain sendiri lho. Pokoknya,
wajib punya masker ya karena mencegah lebih baik daripada mengobati! (lihat
CARE Indonesia).
Selain itu, praktik membuatnya sangat mudah,
perlengkapan untuk membuatnya pun sangat ekonomis. Bisa dibuat oleh siapapun
dan dimana pun, yang terpenting selalu menjaga kesehatan diri masing-masing,
salah satunya dengan menggunakan masker. Karena kesehatan sangat penting dan
urgen. Namun, selalu rutin untuk mengganti masker yang kotor, semisal dengan
menyediakan masker cadangan. Sebab, kebersihan merupakan awal dari sehat,
apabila kita selalu menjaga kebersihan, in syaa Allah kesehatan badan kita akan
terjaga. Sebagaimana di dalam salah satu firman-Nya:
وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا
مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ
وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ
لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ (١٢٥)
Terjemah: “Dan (ingatlah), ketika Kami
menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia.
Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat
salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah
rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan
orang yang sujud!” (Q.S Al-Baqarah [2]: 125)
Tafsir Kemenag: Diperintahkan kepada Nabi
Muhammad saw, dan kaum Muslimin agar mengingat ketika Allah menjadikan Ka'bah
sebagai tempat berkumpul manusia, tempat yang aman, dan menjadikan Maqam
Ibrahim sebagai tempat salat. Maqam Ibrahim ialah tempat berpijak bagi Ibrahim ketika
membangun Ka’bah. Perintah Allah kepada Ibrahim dan Ismail itu untuk
menenteramkan hati Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin dalam menghadapi
keingkaran orang kafir dan untuk menerangkan kepada orang musyrik, Yahudi dan
Nasrani bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad itu seasas dengan agama yang
dibawa Nabi Ibrahim, agama nenek moyang mereka.
Ada dua faedah yang dapat diambil dari ayat di
atas sehubungan dengan didirikannya Ka’bah: Pertama, tempat berkumpul bagi
manusia untuk ibadah. Sejak zaman dahulu sebelum Nabi Muhammad saw diutus
sampai saat ini Ka’bah atau Mekah telah menjadi tempat berkumpul manusia dari
segala penjuru, dari segala macam bangsa dalam rangka menghormati dan
melaksanakan ibadah haji. Hati mereka merasa tenteram tinggal di sekitar Ka'bah.
Setelah mereka kembali ke tanah air, hati dan jiwa mereka senantiasa tertarik
kepadanya dan selalu bercita-cita ingin kembali lagi bila ada kesempatan.
Kedua, Allah swt menjadikannya sebagai tempat
yang aman. Maksudnya, Allah menjadikan tanah yang berada di sekitar
Masjidilharam sebagai tanah dan tempat yang aman bagi orang-orang yang berada
di sana. Sejak dahulu sampai saat ini orang-orang Arab mengagungkan dan
menyucikannya.
Orang-orang Arab terkenal dengan sifat suka
menuntut bela atas orang atau kabilah yang membunuh atau menyakiti atau
menghina keluarganya. Di mana saja mereka temui orang atau kabilah itu,
penuntutan balas akan mereka laksanakan. Kecuali bila mereka menemuinya di
Tanah Haram, mereka tidak mengganggu sedikit pun. Dalam pada itu sejak zaman
dahulu banyak usaha dari orang-orang Arab sendiri atau dari bangsa-bangsa yang
lain untuk menguasai Tanah Haram atau untuk merusak Ka’bah, tetapi selalu
digagalkan Allah, seperti usaha Abrahah Raja Najasyi dengan tentaranya untuk
menguasai Tanah Haram dan Ka’bah. Mereka dihancurkan.
Allah berfirman: Tidakkah engkau (Muhammad)
perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?
Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan
kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu
dari tanah liat yang dibakar, sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun
yang dimakan (ulat). (al-Fil/105:1-5)
Tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami
telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia di
sekitarnya saling merampok. Mengapa (setelah nyata kebenaran) mereka masih
percaya kepada yang batil dan ingkar kepada nikmat Allah? (al-‘Ankabut/29:67)
Allah memerintahkan agar Maqam Ibrahim
dijadikan sebagai tempat salat. Faedah perintah itu ialah untuk menghadirkan
perintah itu di dalam pikiran atau agar manusia mengikuti apa yang
diperintahkan itu, seolah-olah perintah itu dihadapkan kepada mereka sehingga
perintah itu tertanam di dalam hati mereka dan mereka merasa bahwa diri mereka
termasuk orang yang diperintah. Dengan demikian, maksud ayat ialah: Orang-orang
dahulu yang beriman kepada Ibrahim a.s. diperintahkan agar menjadikan sebagian
Maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Perintah itu ditujukan pula kepada
orang-orang yang datang kemudian, yang mengakui Ibrahim a.s., sebagai nabi dan
rasul Allah dan mengakui Nabi Muhammad saw, salah seorang dari anak cucu
Ibrahim a.s. sebagai nabi yang terakhir.
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk
membersihkannya dalam arti yang sebenarnya dan dalam arti kiasan. Membersihkan
dalam arti yang sebenarnya ialah membersihkan dari segala macam benda yang
dihukumkan najis, seperti segala macam kotoran dan sebagainya. Membersihkan
dalam arti kiasan ialah membersihkannya dari segala macam perbuatan yang
mengandung unsur-unsur syirik, perbuatan menyembah berhala, perbuatan-perbuatan
yang terlarang, bertengkar dan sebagainya.
Perintah membersihkan Ka'bah ini sekalipun
ditujukan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail, tetapi termasuk juga orang-orang yang
datang sesudahnya. Allah menamakan Ka’bah yang didirikan itu dengan “Rumah
Allah” (Baitullah). Penamaan itu bukan berarti Allah tinggal di dalam atau di
sekitar Ka’bah. Tetapi maksudnya ialah bahwa Allah menjadikan rumah itu tempat
beribadah kepada-Nya dan dalam beribadah menghadap ke arah Ka’bah.
Hikmah menjadikan Ka’bah sebagai “rumah Allah”
dan menjadikan sebagai arah menghadap di dalam beribadah kepada Allah Pencipta
dan Penguasa seluruh makhluk agar manusia merasa dirinya dapat langsung
menyampaikan pujian, pernyataan syukur, permohonan pertolongan dan permohonan
doa kepada Allah.
Manusia kurang dapat menyatakan pikirannya
dalam beribadah kepada Allah bila tidak dilakukan di tempat tertentu dan
menghadap ke arah tertentu. Dengan adanya tempat tertentu dan arah tertentu,
manusia dapat menambah imannya setiap saat, memperdalam pengetahuannya, dan
mempertinggi nilai-nilai rohani dalam dirinya. Karena dengan demikian dia
merasakan seolah-olah Allah ada di hadapannya demikian dekat, sehingga tidak
ada yang membatasi antaranya dengan Allah.
Pada ayat yang lain ditegaskan bahwa ke mana
saja manusia menghadap dalam beribadah, berdoa akan menemui wajah Allah, dan
sampai kepada-Nya, karena Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. Dari ayat di
atas dapat dipahami bahwa penamaan Ka'bah sebagai rumah Allah hanyalah untuk
mempermudah manusia dalam membulatkan pikirannya dalam beribadah. Pada asasnya
Allah Mahabesar, Maha Mengetahui lagi Mahaluas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar