Rabu, 15 Juli 2020

Jangan Menyerah! Ujian Pasti Berlalu: Taat Kepada-Nya, Teladani Rasul-Nya


Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 

 Judul Buku      : Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim Menghadapinya 
        Penulis            : M. Quraish Shihab 
        Penerbit           : Lentera Hati
 
        Terbit               : Pertama, April 2020
 
        Tebal               : xiii + 123 halaman
         
        ISBN               : 978-623-7713-26-5
                  Peresensi         : Muhammad Sapi’i

            Semua mata memandang dan hati merasakan teramat sangat akan bencana atau ujian yang menimpa di negera ini. Mulai dari tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, bahkan gempa. Namun, yang tak kalah mengerikan dari itu, mewabahnya sebuah virus baru yang biasa disebut virus corona (covid-19). Kita tidak pernah tahu kapan wabah ini akan berakhir! Tetapi kita harus yakin, bahwa semuanya telah ada dalam ketentuan-Nya.

            Tidakkah kita melihat tumbuhan yang kokoh tanpa terpaan angin dan tidakkah kita melihat karang yang indah tanpa ombak yang besar! Kemana kita selama ini, tidakkah kita mengambil sebuah pelajaran? Semua tidaklah terlepas dari takdirnya. Hidup bukan tentang harta dan tahta semata, namun hidup tentang penghambaan dengan tulus dan benar-benar ikhlas kepada-Nya. Jangan goyah saat bencana atau ujian menimpa, sabarlah dan selalu berprasangka baik. Mengadulah kepada-Nya, sekan di dunia ini hanya kita dan Dia.

            Tidaklah terlarang bersedih saat di uji dengan sesuatu yang berat, tetapi kesedihan jangan melampaui batas sehingga bertindak atau berucap dengan ucapan yang tidak benar. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. diuji dengan kematian putranya Ibrahim, beliau mencucurkan air mata. Ketika beberapa sahabat melihat air mata yang berlinang dan bertanya, beliau berucap: Ini adalah rahmat. Mata berlinang, hati bersedih, tapi kita berucap kecuali yang diridai Allah dan sungguh kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim (HR. Bukhari) (hlm. 17).

            Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ (٢)

Terjemah: Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?. (Q.S Al-Ankabut [29]: 2)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah bertanya kepada manusia yang telah mengaku beriman dengan mengucapkan kalimat syahadat bahwa apakah mereka akan dibiarkan begitu saja mengakui keimanan tersebut tanpa lebih dahulu diuji? Tidak, malah setiap orang beriman harus diuji lebih dahulu, sehingga dapat diketahui sampai di manakah mereka sabar dan tahan menerima ujian tersebut. Ujian yang mesti mereka tempuh itu bermacam-macam. Umpamanya perintah berhijrah (meninggalkan kampung halaman demi menyelamatkan iman dan keyakinan), berjihad di jalan Allah, mengendalikan syahwat, mengerjakan tugas-tugas dalam rangka taat kepada Allah, dan bermacam-macam musibah seperti kehilangan anggota keluarga, dan hawa panas yang kering yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan mati kekeringan. Semua cobaan itu dimaksudkan untuk menguji siapakah di antara mereka yang sungguh-sungguh beriman dengan ikhlas dan siapa pula yang berjiwa munafik. Juga bertujuan untuk mengetahui apakah mereka termasuk orang yang kokoh pendiriannya atau orang yang masih bimbang dan ragu sehingga iman mereka masih rapuh.

Maksud ayat ini dapat dilihat dalam ayat lain, yakni:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (at-Taubah/9: 16)

Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap orang yang mengaku beriman tidak akan mencapai hakikat iman yang sebenarnya sebelum ia menempuh berbagai macam ujian. Ujian itu bisa berupa kewajiban seperti kewajiban dalam memanfaatkan harta benda, hijrah, jihad di jalan Allah, membayar zakat kepada fakir miskin, menolong orang yang sedang mengalami kesusahan dan kesulitan, dan bisa juga berupa musibah.

Pandemi corona mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia termasuk da lam praktik agama. Sebagaimana anjuran pemerintah dan ahli kesehatan untuk menghindari kerumunan, shalat Jumat pun salah satu ibadah yang mesti kita hindari karena melibatkan manusia dalam jumlah yang banyak. Pemuka-pemuka agama berbeda pendapat dalam menanggapinya. Demi keselamatan bersama tanpa melanggar syariat, buku elektronik (ebook) ini hadir untuk mengkonfirmasi perubahan perubahan praktik agama yang sudah dan masih akan kita hadapi. Dalam buku elektronik ini pula, hadis dan ayat-ayat yang beredar di media sosial selama masa pandemi dikonfirmasi dan didiskusikan sesuai konteksnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...