Penulis : M. Quraish ShihabPenerbit : Lentera HatiTerbit : Pertama, April 2020Tebal : xiii + 123 halaman
ISBN : 978-623-7713-26-5Peresensi : Muhammad Sapi’i
Semua mata
memandang dan hati merasakan teramat sangat akan bencana atau ujian yang
menimpa di negera ini. Mulai dari tanah longsor, banjir bandang, gunung
meletus, bahkan gempa. Namun, yang tak kalah mengerikan dari itu, mewabahnya
sebuah virus baru yang biasa disebut virus corona (covid-19). Kita tidak pernah
tahu kapan wabah ini akan berakhir! Tetapi kita harus yakin, bahwa semuanya
telah ada dalam ketentuan-Nya.
Tidakkah kita
melihat tumbuhan yang kokoh tanpa terpaan angin dan tidakkah kita melihat
karang yang indah tanpa ombak yang besar! Kemana kita selama ini, tidakkah kita
mengambil sebuah pelajaran? Semua tidaklah terlepas dari takdirnya. Hidup bukan
tentang harta dan tahta semata, namun hidup tentang penghambaan dengan tulus
dan benar-benar ikhlas kepada-Nya. Jangan goyah saat bencana atau ujian
menimpa, sabarlah dan selalu berprasangka baik. Mengadulah kepada-Nya, sekan di
dunia ini hanya kita dan Dia.
Tidaklah terlarang
bersedih saat di uji dengan sesuatu yang berat, tetapi kesedihan jangan
melampaui batas sehingga bertindak atau berucap dengan ucapan yang tidak benar.
Ketika Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam. diuji dengan
kematian putranya Ibrahim, beliau mencucurkan air mata. Ketika beberapa sahabat
melihat air mata yang berlinang dan bertanya, beliau berucap: “Ini
adalah rahmat. Mata berlinang, hati bersedih, tapi kita berucap kecuali yang
diridai Allah dan sungguh kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim”
(HR. Bukhari) (hlm. 17).
Allah
Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ
لَا يُفْتَنُوْنَ (٢)
Terjemah: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan
mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?.”
(Q.S Al-‘Ankabut
[29]: 2)
Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah bertanya kepada manusia yang
telah mengaku beriman dengan mengucapkan kalimat syahadat bahwa apakah mereka
akan dibiarkan begitu saja mengakui keimanan tersebut tanpa lebih dahulu diuji?
Tidak, malah setiap orang beriman harus diuji lebih dahulu, sehingga dapat
diketahui sampai di manakah mereka sabar dan tahan menerima ujian tersebut.
Ujian yang mesti mereka tempuh itu bermacam-macam. Umpamanya perintah berhijrah
(meninggalkan kampung halaman demi menyelamatkan iman dan keyakinan), berjihad
di jalan Allah, mengendalikan syahwat, mengerjakan tugas-tugas dalam rangka
taat kepada Allah, dan bermacam-macam musibah seperti kehilangan anggota
keluarga, dan hawa panas yang kering yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan mati
kekeringan. Semua cobaan itu dimaksudkan untuk menguji siapakah di antara
mereka yang sungguh-sungguh beriman dengan ikhlas dan siapa pula yang berjiwa
munafik. Juga bertujuan untuk mengetahui apakah mereka termasuk orang yang kokoh
pendiriannya atau orang yang masih bimbang dan ragu sehingga iman mereka masih
rapuh.
Maksud ayat ini dapat dilihat dalam ayat lain, yakni:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (at-Taubah/9: 16)
Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap orang
yang mengaku beriman tidak akan mencapai hakikat iman yang sebenarnya sebelum
ia menempuh berbagai macam ujian. Ujian itu bisa berupa kewajiban seperti
kewajiban dalam memanfaatkan harta benda, hijrah, jihad di jalan Allah,
membayar zakat kepada fakir miskin, menolong orang yang sedang mengalami
kesusahan dan kesulitan, dan bisa juga berupa musibah.
Pandemi corona mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia termasuk
da lam praktik agama. Sebagaimana anjuran pemerintah dan ahli kesehatan untuk
menghindari kerumunan, shalat Jumat pun salah satu ibadah yang mesti kita
hindari karena melibatkan manusia dalam jumlah yang banyak. Pemuka-pemuka agama
berbeda pendapat dalam menanggapinya. Demi keselamatan bersama tanpa melanggar
syariat, buku elektronik (ebook) ini hadir untuk mengkonfirmasi
perubahan perubahan praktik agama yang sudah dan masih akan kita hadapi. Dalam
buku elektronik ini pula, hadis dan ayat-ayat yang beredar di media sosial
selama masa pandemi dikonfirmasi dan didiskusikan sesuai konteksnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar