Sabtu, 11 Juli 2020

"Mentadabburi Kalam-NYA Raihlah Sehat Seutuhnya" Sehat? Mengapa Tidak!





Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020
Sehat menurut World Health Organisation (WHO) adalah suatu keadaan yang lengkap meliputi kesejahteraan fisik, mental, sosial, dan bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Begitupun menurut UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan, sehat adalah keadaan kesejahteraan badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Wati, 2019: 1). Pada masa pandemi covid-19 seperti saat ini, maka pentingnya untuk selalu menjaga kesehatan, baik lahir maupun batin. Serta mempunyai kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar, karena kesehatan bermula dari lingkungan yang bersih dan lingkungan yang bersih akan berdampak pada hidup yang sehat.
Al-Qur’an mengajarkan kita untuk selalu menjaga kebersihan, karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًاۗ  لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ  فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ (١٠٨)
Terjemah: “Janganlah engkau melaksanakan salat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Q.S At-Taubah [9]: 108)

Tafsir Kemenag: Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah menyukai orang-orang yang sangat menjaga kebersihan jiwa dan jasmaninya, karena mereka menganggap bahwa kesempurnaan manusia terletak pada kesucian lahir batinnya. Oleh sebab itu, mereka sangat membenci kekotoran lahiriyah, seperti kotoran pada badan, pakaian dan tempat, maupun kotoran batin yang timbul karena perbuatan maksiat terus menerus, serta budi pekerti yang buruk, misalnya riya dalam beramal, ataupun kikir dalam menyumbangkan harta untuk memperoleh keridaan Allah. Kecintaan Allah pada orang-orang yang suka mensucikan diri, adalah salah satu dari sifat-sifat kesempurnaan-Nya, Dia suka kepada kebaikan, kesempurnaan, kesucian, dan kebenaran. Sebaliknya, Dia benci kepada sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat-sifat tersebut.
Oleh sebab itu, mari kita bersama-bersama memperhatian aspek kesehatan. Jangan sekali-kali meremehkan protokol kesehatan, baik anjuran dari pemerintah ataupun para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ  ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Terjemah: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok, 4/341, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)
Itulah mengapa kesehatan sangat penting, dan memang betul kata-kata "lebih baik mencegah dari pada mengobati sangat relevan, mumpung sakit belum terjadi pada diri kita. Sebagaimana al-Qur'an menganjurkan kita untuk selalu menjaga kesehatan, yang pertama yakni kebersihan. Karena bersih awal dari kesehatan dan kesehatan akan sangat menunjang, baik dalam ibadah mahdah maupun ibadah muamalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Negeri Para Pejuang: Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur”

  Oleh Muhammad Sapi’i Kelompok 25 KKN-DRSK IAIN Palangka Raya Tahun 2020 Pencipta Puisi: Muhammad Sapi’i Vocal: Muhammasd Sapi’i Editor...