Menjelang Idul Adha, masyarakat disibukkan untuk
mempersiapkan hewan yang akan diqurbankan. Mengingat pada tahun ini berbeda
dengan tahun-tahun sebelumnya, karena wabah pandemi covid-19 yang belum usai.
Maka bagi yang mau berqurban dihimbau baik oleh para ulama dan pemerintah untuk
tidak berkerumun. Tetapi, daging qurban masih bisa dibagikan dengan catatan
memperhatikan protokol kesehatan.
Mengenai berqurban, Allah Subhanahu Wa Ta’ala
telah mensyariatkan melalui Nabi-Nya dan Allah perintahkan kepada Nabi-Nya
untuk menyampaikan perintah tersebut kepada umat manusia. Selain pada Q.S
Al-Kautsar, perintah berqurban terdapat dalam (Q.S Al-Hajj [22]: 34) sebagaimana berikut:
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا
رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ
اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ (٣٤)
Terjemah: “Dan bagi setiap umat telah Kami
syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki
yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah
Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan
sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh
(kepada Allah).” (Q.S Al-Hajj [22]:
34)
Tafsir Kemenag: Allah telah menetapkan syariat
bagi tiap-tiap manusia termasuk di dalamnya syariat kurban. Seseorang yang
berkurban berarti ia telah menumpahkan darah binatang untuk mendekatkan dirinya
kepada Allah dan ingin mencari keridaan Allah. Allah memerintahkan kepada
orang-orang yang berkurban itu agar mereka menyebut dan mengagungkan nama Allah
waktu menyembelih binatang kurban itu, dan agar mereka mensyukuri nikmat Allah
yang telah dilimpahkan kepada mereka. Di antara nikmat Allah itu ialah berupa
binatang ternak, seperti unta, lembu, kambing dan sebagainya yang merupakan
rezeki dan makanan yang halal bagi mereka.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang-orang
yang beriman dilarang mengagungkan nama apapun selain daripada nama Allah.
Setelah datangnya Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir yang membawa risalah bagi
seluruh umat manusia, maka agama yang benar dan harus diikuti oleh seluruh umat
manusia hanyalah agama Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi
Muhammad.
Firman Allah: Sesungguhnya agama di sisi
Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab.
(Ali ‘Imran/3: 19) Lebih jelas lagi siapapun yang
mencari atau berpegang pada agama selain Islam maka tidak akan diterima Allah
dan termasuk orang yang rugi. Firman Allah: Dan barang siapa mencari agama
selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang
rugi. (Ali ‘Imran/3: 85)
Rasulullah saw menyembelih binatang kurban dengan
menyebut nama Allah dan bertakbir, sebagaimana tersebut dalam hadis beliau: Dari
Anas, ia berkata, “Rasulullah saw dibawakan dua ekor domba yang bagus (pada kedua
domba itu terdapat warna putih yang bercampur hitam) yang bertanduk bagus, lalu
beliau menyebut nama Allah dan bertakbir (waktu menyembelihnya) dan meletakkan
kakinya di atas rusuk binatang itu.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Pada akhir ayat ditegaskan bahwa Allah yang
berhak disembah itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan kepercayaan tauhid itu
telah dianut pula oleh orang-orang dahulu, karena itu patuh dan taat hanya
kepada Allah, mengikuti semua perintah-perintah-Nya, menjauhi semua
larangan-Nya dan melakukan semua pekerjaan semata-mata karena-Nya dan untuk
mencari keridaan-Nya. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar
menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang tunduk, patuh, taat,
bertobat dan merendahkan dirinya kepada-Nya bahwa bagi mereka disediakan pahala
yang berlipat ganda, berupa surga di akhirat nanti.
Perkataan “maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa”
memberi peringatan bahwa kurban, menghormati syi’ar-syi’ar Allah, dan beribadah
sesuai dengan petunjuk para rasul yang diutus kepada mereka, sekalipun ibadah
dan syariat itu berbeda pada tiap-tiap umat, namun termasuk dalam agama Allah,
termasuk jalan yang lurus yang harus ditempuh oleh setiap yang mengaku sebagai
hamba Allah, dalam menaati dan mencari rida-Nya. Perbedaan cara-cara beribadah
antara umat-umat yang dahulu dengan umat-umat yang datang kemudian, di dalamnya
umat Nabi Muhammad, janganlah dijadikan alasan yang dapat menimbulkan
perpecahan di antara orang-orang yang beriman. Semuanya itu dilakukan dengan
tujuan untuk menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar